Kembangkan Potensi Nikel, RI Harus Banget Gandeng Tesla?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 26 Mei 2022 17:30 WIB
Tambang nikel PT Vale di Soroako, Sulawesi Selatan
Ilustrasi Tambang Nikel/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta -

Nikel menjadi salah satu harta karun besar yang terkandung di bumi Indonesia. Sampai saat ini pemerintah sedang mengarahkan nikel harus diolah menjadi barang bernilai tambah.

Salah satunya adalah menawarkan nikel untuk dijadikan baterai mobil listrik. Pemerintah pun sudah mencolek Tesla, pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat untuk menggarap hal tersebut.

Dewan Penasihat Asosiasi Profesi Metalurgi Arif S Tiammar mengatakan langkah ini memang tepat untuk dilakukan. Pasalnya sebagai perusahaan mobil listrik, Tesla memang menjadi primadona di industri ini.

"Kalau dari segi merek Tesla memang primadona, baik di china, kalau ada mobil dikirim ke Indonesia made in china, tapi mobil Tesla. Nah dalam waktu hanya beberapa tahun berdiri market cap itu melebihi industri mobil dunia, game changer memang," ungkap Arif dalam Podcast Tolak Miskin detikcom.

Namun, menurut Arif untuk mengolah nikel bahkan membentuk sebuah rangkaian rantai pasok produk hilirisasi nikel tak melulu harus menggandeng Tesla semata. Menurutnya, masih banyak pabrikan lain yang bisa diajak kerja sama bila Tesla menolak untuk bekerja sama.

"Untuk EV sendiri kan banyak pemainnya ada Volkswagen, ada Honda dan Toyota juga yang mulai menggeliat," ungkap Arif.

Namun, Arif menilai pemerintah jangan hanya fokus mengembangkan nikel menjadi baterai mobil listrik saja. Masih banyak sekali kandungan nikel yang bisa dikembangkan, mulai dari besi, kobalt, hingga scanium.

Bahkan, ada beberapa potensi pengembangan nikel yang belum dilakukan di Indonesia. Misalnya saja pengembangan bijih nikel menjadi nikel powder dan nikel super aloy.

Dua produk itu bisa dikembangkan ke industri berteknologi tinggi, salah satunya adalah 3D printing. Biasanya, teknologi ini digunakan untuk membuat spare part yang rumit untuk pesawat.

"Dua-duanya ini akan mengerucut menjadi industri 3D printing, ini menciptakan komposisi dan part-part pesawat terbang, dan kebutuhan pencetakan bentuk serumit apapun," kata Arif.

Teknologi ini bagaikan printer, mencetak apapun yang dibuat secara digital di komputer. Hanya saja, bukan pakai tinta atau kertas, pencetakannya menggunakan nikel powder dan menjadi sebuah bentuk 3 dimensi.

"Ke depannya pakai 3D printing untuk banyak hal, bentuk serumit apapun bisa pakai 3D printing. Nge-printnya pakai nikel atau metal powder, ke depan ini akan jadi game changer karena ini related ke berbagai indutri," papar Arif.

(hal/eds)