ADVERTISEMENT

Pangkas Pasokan dan Ekspor, Kok Bisnis Gas Rusia Masih 'Sehat'?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 02 Jun 2022 11:15 WIB
Ketegangan Rusia dan negara-negara Eropa imbas perang di Ukraina berbuntut panjang. Rusia balas sanksi ekonomi dengan setop pasokan gas ke sejumlah negara Eropa
Foto: REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Jakarta -

Langkah Rusia yang semakin agresif terhadap konsumen gasnya di Eropa memakan korban. Jumlah ekspor gas alam Rusia berkurang lebih dari seperempat sejak bulan Januari. Namun, adanya lonjakan harga gas membuat pundi-pundi Rusia tetap menggembung meski menghentikan ekspor.

Menurut raksasa energi negara Rusia Gazprom (GZPFY), ekspor gas Rusia ke negara-negara di luar Commonwealth of Independent States, yang mencakup 11 negara di Asia Tengah dan Eropa Timur, turun hampir 28% dalam lima bulan pertama 2022.

Mengutip CNN Business, Kamis (2/6/2022), sejauh ini Gazprom memotong sekitar 20 miliar meter kubik pasokan gas tahunannya ke enam negara di Eropa. Negara-negara tersebut adalah Polandia, Bulgaria, Finlandia, Denmark, Jerman dan Belanda.

Alasan di balik penghentian ekspor ini adalah karena keenam negara menolak permintaan Vladimir Putin yang meminta pembayaran dilakukan dengan rubel. Dari data International Energy Agency, jumlah tersebut hampir 13% dari total impor gas tahunan Uni Eropa dari Rusia.

James Huckstepp, kepala analis gas EMEA dari S&P Global Commodity Insights mengatakan kepada CNN Business bahwa harga gas telah naik menjadi rata-rata €96 (US$ 102) atau Rp 1.4 (kurs 14.500) juta per MWh. "Sepertinya (Rusia) tidak akan mengalami penurunan pendapatan sampai pemotongan lebih lanjut dilakukan," kata Huckstepp.

Sejak ultimatum Putin, Gazprom telah menawarkan solusi kepada pelanggan. Pembelian yang sebelumnya menggunakan euro atau dolar diubah menggunakan mata uang rubel. Sebagian negara setuju dengan tawaran Gazprom demi menjaga pasokan gas tetap lancar. Namun, beberapa lainnya menolak mentah-mentah permintaan itu.

Pada hari selasa, Shell (SHLX) Energy menolak persyaratan baru yang diajukan. Konsekuensinya Gazprom menyetop pasokan gas ke pelanggannya di Jerman. Dalam sebuah pernyataan hari Senin, GasTerra dari Belanda tidak akan mematuhi perjanjian sepihak dari Gazprom terkait persyaratan pembayaran.

Uni Eropa bergerak cepat untuk mengurangi ketergantungannya pada Moskow, meningkatkan impor gas alam cair (LNG) dan berjanji untuk memangkas konsumsi gas Rusia sebesar 66% sebelum akhir tahun.

Lihat juga video 'Inflasi di Inggris Melonjak 9%, Tertinggi Sejak 1982':

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT