'Harta Karun' Panas Bumi Masih Melimpah, Ini Datanya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 14 Jun 2022 14:44 WIB
PLTP
Foto: Pertamina
Jakarta -

Indonesia punya cadangan panas panas bumi yang besar. Pengembangan panas bumi bisa digenjot untuk mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT).

Pengembangan energi panas bumi sendiri punya keunggulan. Salah satunya ialah tidak menghadapi masalah pasokan.

"Panas bumi dapat menjadi baseload (beban dasar) karena tidak menghadapi masalah intermitensi. Selain itu, kita punya cadangan panas bumi cukup besar, sekitar 23,7 GW," ujar Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro dalam keterangannya, Selasa (14/6/2022).

Komaidi mengatakan, pengembangan energi primer dari energi fosil ke EBT dengan menempatkan panas bumi sebagai skala prioritas tidaklah berlebihan. Dengan sumber daya yang besar seharusnya panas bumi menjadi potensi yang mendapatkan perhatian lebih.

"Pemanfaatan saat ini saja masih jauh dari jumlah cadangan yang terbukti," ujarnya.

Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Perusahaan Listrik Negara (PLN) 2021-2030, Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 23,965 GW. Potensi terbesarnya ada di Pulau Sumatera, yakni sebesar 9,679 GW. Meski punya potensi terbesar, kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) terpasang di Sumatera baru 562 Megawatt (MW) atau 5,8% dari total potensinya. Artinya, masih ada sekitar 94% potensi yang belum digarap.

Sedangkan di Pulau Jawa, potensi panas bumi sebesar 8,107 GW. PLTP yang terpasang baru berkapasitas 1.254 MW atau 15,5% dari potensinya.

Sementara, Sulawesi memiliki potensi panas bumi 3,068 GW. Namun, PLTP yang terpasang baru 120 MW atau 3,9% dari potensinya. Di Nusa Tenggara, potensi panas bumi 1,363 GW dan kapasitas terpasang 12,5 MW.

Berikutnya, Maluku memiliki potensi 1,156 GW, Bali 335 MW, Kalimantan 182 MW, dan Papua 75 MW. Belum ada kapasitas terpasang PLTP di keempat pulau tersebut.

Dalam RUPTL PLN 2021-2030, pembangkit EBT mencapai 20,9 GW atau 51% lebih tinggi dari energi fosil (thermal) sebesar 19,7 GW. Dari 20,9 GW itu, 10,4 GW dari PLTA dan 3,4 GW dari panas bumi.

"Saya kira justru ada potensi (panas bumi) untuk dapat ditingkatkan besaran targetnya," ujarnya.

Meski panas bumi memiliki cadangan besar, pengembangan panas bumi tidak mudah. Dia mengatakan, kunci utama pengembangan panas bumi adalah PLN.

"Salah satu upaya yang dapat dilakukan memberikan ruang agar pengembang bisa menjual listrik selain kepada PLN. Jika hal tersebut dapat dilakukan saya kira pengembangan EBT tidak hanya bergantung pada PLN," ujar Komaidi.

Wiluyo Kusdwiharto, Direktur Mega Proyek dan EBT PLN, menjelaskan pembangunan pembangkit EBT sangat menantang bagi PLN. Hal itu disebabkan oleh kondisi kelebihan pasokan yang dialami PLN. Dia optimistis dengan kerjasama para stakeholder dan para pihak, nantinya tumbuh permintaan (demand). Apalagi saat ini demand mulai tumbuh 8%.

"Sesuai prediksi kami, ke depannya akan tumbuh signifikan sehingga dapat mengakselerasikan pembangunan pembangkit renewable baru," ujarnya pada Acara Bincang-bincang METI yang merupakan rangkaian kegiatan Launching The 11th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition 2022.



Simak Video "Kawah Hujan, Membasahkan Baju Bak Tersiram Hujan atau Sauna Kamojang Garut"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)