Disentil Jokowi, Pertamina Ngaku Sudah Berhemat Rp 32 Triliun

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Selasa, 21 Jun 2022 19:53 WIB
Logo Pertamina di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

PT Pertamina (Persero) mengaku terus mengoptimalkan biaya, sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo agar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dapat meningkatkan efisiensi. Penghematan biaya operasional Pertamina di tahun kedua pandemi COVID-19, adalah sebesar US$2,2 miliar atau setara Rp 32 triliun.

Jumlah penghematan itu diperoleh dari program penghematan biaya (cost saving) sebesar Rp 20 triliun, penghindaran biaya (cost avoidance) sebesar Rp 5 triliun, serta tambahan pendapatan (revenue growth) sekitar Rp 7 triliun.

Berbagai inovasi, telah ditempuh untuk menyiasati beratnya tantangan bisnis di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia akibat disrupsi rantai pasok dan kondisi pandemi yang masih berlangsung. Di tahun 2022, diperparah dengan adanya konflik perang Ukraina-Rusia yang mengakibatkan kenaikan ICP di atas US$ 100/barrel.

"Dengan efisiensi, kami bisa bertahan di tengah dinamika global yang unpredictable dan mempersembahkan laba bersih Rp 29,3 triliun di tahun 2021," ujar Heppy Wulansari, Pj. Vice President Corporate Communication Pertamina, dalam keterangannya dikutip Selasa (21/6/2022).

Pertamina melakukan optimasi biaya produksi dan services, melalui serangkaian terobosan budget tolerance profile, optimasi intervensi sumur, hingga penghematan konsumsi chemical dan penggunaan bahan bakar. Jurus ini berbuah penghematan Rp 6,2 triliun atau lebih tinggi 10% dari target Rp 5,6 triliun.

Heppy mengatakan Pertamina menerapkan optimasi biaya pengadaan medium crude melalui aktivitas blending heavy & light crude, renegosiasi alpha, advance procurement, pembelian distress cargo, co-load delivery, dan extensive delivery date range, dan optimasi portofolio impor LPG (multi source, direct sourcing dan trading swap). Ini berhasil menekan biaya hingga Rp 2,8 triliun.

Selain berhemat, Pertamina juga melakukan penghindaran biaya hingga Rp 5,1 triliun atau lebih tinggi 10% dari target yang dipatok sebesar Rp 4,6 triliun. Untuk mendukung upaya penghematan, Pertamina mampu menghasilkan tambahan pendapatan sebesar Rp7,1 triliun atau mencapai 107% dari target 2021 sebesar Rp6,6 triliun.

"Dengan menghemat energi dan bahan bakar kilang untuk penggunaan sendiri serta optimasi penggunaan listrik, anggaran Rp 403 miliar dapat diefisienkan" kata Heppy.

Sebelumnya, Jokowi telah menegur BUMN yang dapat subsidi dari pemerintah tapi tidak melakukan efisiensi. Secara blak-blakan, dia menyebutkan nama Pertamina dan PLN. Menurutnya, subsidi tanpa dibarengi penghematan maka jadi percuma. Perusahaan minyak dan gas negara itu disebut kurang maksimal, dalam melakukan efisiensi sebagai perusahaan milik negara.

"Ada subsidi dari Menkeu (Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati) tanpa ada usaha efisiensi di PLN, di Pertamina. Ini yang dilihat kok enak banget? Mana yang bisa diefisiensikan, mana yang bisa dihemat, kemudian mana kebocoran-kebocoran yang bisa dicegah. Semuanya harus dilakukan di posisi-posisi seperti ini," Kata Jokowi saat membuka sidang paripurna di Istana Negara, Senin (20/6/2022).

Seperti diketahui, pemerintah menambahkan anggaran belanja subsidi energi tahun ini. Maka dari itu, pemerintah mengajukan perubahan belanja dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2022 ke Badan Anggaran (Banggar) DPR RI.



Simak Video "Ini Arti Kode Angka 31, 33, dan 34 di SPBU Pertamina"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)