Sri Lanka Krisis BBM, Presiden Gotabaya Rajapaksa Minta Bantuan Putin

ADVERTISEMENT

Sri Lanka Krisis BBM, Presiden Gotabaya Rajapaksa Minta Bantuan Putin

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 08 Jul 2022 08:46 WIB
Air Force members stand guard at a Lanka IOC fuel station (Indian Oil Corporation) as people queue up to buy fuel due to fuel shortage, amid the countrys economic crisis, in Colombo, Sri Lanka, July 6, 2022. REUTERS/Dinuka Liyanawatte
Pasukan Militer Sri Lanka Jaga Pom Bensin/Foto: REUTERS/Dinuka Liyanawatte
Jakarta -

Sri Lanka sedang dilanda krisis ekonomi terburuk sejak merdeka dari Inggris pada 1948. Pasokan bahan bakar minyak (BBM) semakin menipis karena negara tak punya uang untuk mengimpor hingga minta bantuan ke Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa mengatakan telah berdiskusi sangat serius dengan Putin. Pasalnya Menteri Energi Sri Lanka Kanchana Wijesekera mengingatkan bahwa negara itu kemungkinan akan kehabisan bensin pada akhir pekan.

"Saya meminta tawaran dukungan kredit untuk mengimpor bahan bakar," cuit Rajapaksa mengacu pada percakapannya dengan Putin dikutip dari BBC, Jumat (8/7/2022).

Rajapaksa juga mengatakan dengan rendah hati sudah mengajukan permintaan untuk penerbangan antara Moskow dan Kolombo dilanjutkan, setelah maskapai berbendera Rusia Aeroflot menangguhkan layanan bulan lalu.

"Kami dengan suara bulat sepakat bahwa memperkuat hubungan bilateral di sektor-sektor seperti pariwisata, perdagangan, dan budaya adalah yang terpenting dalam memperkuat persahabatan yang dimiliki kedua negara," tuturnya.

Sri Lanka telah membeli minyak dari Rusia dalam beberapa bulan terakhir untuk membantu meningkatkan pasokan BBM selama krisis. Pemerintah telah mengisyaratkan bahwa mereka akan membeli lebih banyak dari negara yang kaya energi.

Upaya Rajapaksa menyelesaikan krisis ekonomi Sri Lanka sejauh ini gagal karena masyarakat masih kekurangan BBM, listrik, makanan, hingga barang-barang penting lainnya. Berbagai cara sudah dilakukan termasuk mengamankan dukungan keuangan dari India dan China,

Pada Kamis (7/7), Bank Sentral Sri Lanka menaikkan suku bunga acuan sebesar 1% untuk mengatasi lonjakan biaya hidup di sana. Suku bunga pinjaman dinaikkan menjadi 15,5% dan suku bunga deposito dinaikkan menjadi 14,5%, tertinggi dalam 21 tahun terakhir.

Itu dilakukan setelah inflasi tahunan mencapai rekor tertinggi 54,6% pada Juni karena biaya makanan naik lebih dari 80%. Ratusan pengunjuk rasa sehari sebelumnya berkumpul di dekat gedung parlemen di Kolombo dan mendorong agar pemerintahan Rajapaksa digulingkan.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT