ADVERTISEMENT

RI Bisa Produksi Avtur Sendiri, Kok Harganya Tetap Mahal?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 18 Jul 2022 13:49 WIB
Kilang Avtur di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jakarta. Maskapai-maskapai Indonesia yang tergabung di dalam Indonesia National Air Carrier Association (Inaca) mengeluhkan mahalnya biaya avtur untuk industri penerbangan di Indonesia. Mahalnya harga avtur di Indonesia bisa mencapai 13% dibanding negara-negara ASEAN.
RI Bisa Produksi Avtur Sendiri, Kok Harganya Tetap Mahal?/Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

Harga avtur melonjak tajam sehingga membuat biaya operasional maskapai menjadi tinggi. Alhasil, maskapai pun mulai menaikkan harga tiket beberapa waktu ke belakang.

Sebetulnya, avtur bisa diproduksi di kilang-kilang milik Pertamina. Hal itu diungkapkan langsung oleh Direktur Pemasaran Pusat & Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan.

Lalu mengapa harga avtur tetap mahal bila bisa diproduksi sendiri di Indonesia? Menurut Riva meski produksi dilakukan secara mandiri di dalam negeri, minyak mentah yang menjadi bahan bakunya tetap diimpor. Nah, minyak mentah saat ini sedang mengalami lonjakan harga signifikan.

"Memang avtur ini diproduksi kilang domestik Pertamina, namun minyak mentahnya kita impor. Harganya ini berpengaruh juga dari volatilitas dan fluktuasi nilai tukar kurs," ungkap Riva dalam webinar Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi), ditulis Senin (18/7/2022).

Riva menjelaskan gonjang-ganjing pasar global karena perang Rusia dan Ukraina mempengaruhi harga avtur. Stok minyak mentah dari Rusia berkurang, padahal negara itu menjadi salah satu produsen minyak besar di dunia.

Sementara itu permintaan minyak justru meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi dunia. Harga minyak mentah dunia yang tadinya paling mahal di US$ 60 per barel, kini melonjak di sekitar level US$ 100 per barel.

"Harga minyak mentah saja meningkat tajam, di mana kuartal I masih di angka US$ 60-an, sejak terjadi ketegangan Rusia dan Ukraina meningkat tajam. Sampai saat ini stabil di sekitar US$ 100 per barel. Tidak seimbang supply demand dan belum mampunya peningkatan produksi dari OPEC jadi masalahnya, maka stabil minyak di atas US$ 100," papar Riva.

"Jadi trigger volatilitas harga diawali situasi geopolitik Rusia dan Ukraina dan berdampak pada ketidakseimbangan supply demand," lanjutnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Simak juga Video: Harga Avtur Naik, Maskapai Diizinkan Naikkan Tarif Tiket Pesawat

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT