ADVERTISEMENT

Biaya Logistik Bisa Makin Murah Gara-gara BBG, Bagaimana Caranya?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 11 Agu 2022 17:15 WIB
Petugas melakukan pengisian bahan bakar gas (BBG) ke bajaj melalui mobil pengisian BBG milik Perusahaan Gas Negara (PGN) di Kawasan Monas, Jakarta, Rabu (25/09/2013). Pemprov DKI saat ini masih mengkaji lokasi yang dapat digunakan menjadi stasiun pengisian bahan bakar gas bergerak guna memenuhi kebutuhan BBG untuk transportasi di Jakarta. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Upaya menekan biaya logistik bisa dilakukan dengan penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG). Saat ini, sektor logistik masih bergantung pada angkutan darat yang mengonsumsi BBM.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Liquid & Compress Natural Gas Indonesia (APLCNGI) Dian Kuncoro mengatakan ketika harga BBM berubah, maka dikhawatirkan berpengaruh pada harga barang.

"Kami sudah berulangkali mengusulkan agar angkutan darat ini dapat bermigrasi ke BBG, sehingga ketergantungan terhadap BBM berkurang. Dengan semakin bertambahkan infrastruktur pengisian BBG, seharusnya pelaku usaha transportasi seperti truk dan angkutan barang lainnya mulai menggunakan BBG. Ini energi yang lebih bersih, secara harga sangat bersaing dan pasokannya selalu tersedia serta tidak perlu impor," jelas Dian, Kamis (11/8/2022).

Dian mengatakan, penggunaan transportasi darat dalam sektor logistik masih akan dominan di masa depan. Ia mengusulkan kepada pemerintah untuk mendorong penggunaan BBG bagi logistik dengan mempercepat aktivasi dan pembangunan SPBG secara masif di jalur kendaraan pengangkut logistik dan insentif bagi sektor angkutan barang yang menggunakan BBG sebagai pengganti BBM.

Menurut Dian, truk kontainer bisa memulainya dengan menggunakan dual fuel yaitu solar dan CNG. Namun, juga bisa memanfaatkan penggunaan LNG yang berkapasitas lebih besar.

"Berkaca pada data penggunaan dual fuel BBM-BBG pada kendaraan truk dan kendaraan penumpang seperti yang sudah ada terbukti bisa menghemat biaya sampai 30%, jika penghematan ini bisa dinikmati oleh angkutan logistik dan kendaraan penumpang lainnya, tentu akan sangat menguntungkan perekonomian. Dengan harga BBM yang tinggi dan beban pemerintah saat ini, kita butuh action segera," tegasnya.

Dian mengatakan, di tengah berkembangnya kendaraan listrik, pemerintah sebaiknya juga tetap memperhatikan berkembangnya moda transportasi berbasis BBG. Misalnya, pemerintah mendorong industri otomotif agar memproduksi kendaraan transportasi umum dan logistik menggunakan BBG.

"Apa yang terjadi hari ini ketika harga BBM merangkak naik dan kekhawatiran biaya logistik dan distribusi akan semakin mahal, maka dengan memperbanyak produksi kendaraan berbasis BBG, tentunya ekosistemnya akan tercipta dan hal itu juga akan mengurangi konsumsi BBM yang pasokannya tergantung impor. Hal ini akan sangat membantu penghematan dan beban APBN," katanya.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT