ADVERTISEMENT

Jika Tak Ditahan, Harga Pertamax Rp 15.150/Liter, Pertalite Rp 13.150/Liter

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 16 Agu 2022 17:15 WIB
Sejumlah kendaraan antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Tol Sidoarjo 54.612.48, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (11/4/2022). Pemerintah menetapkan Pertalite sebagai jenis BBM khusus penugasan yang dijual dengan harga Rp7.650 per liter dan Biosolar Rp5.510 per liter, sementara jenis Pertamax harganya disesuaikan untuk menjaga daya beli masyarakat yakni menjadi Rp 12.500 per liter dimana Pertamina masih menanggung selisih Rp3.500 dari harga keekonomiannya sebesar Rp16.000 per liter di tengah kenaikan harga minyak dunia. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa tahun ini sektor energi menjadi tantangan. Untuk itu, pemerintah menyiapkan anggaran subsidi dan kompensasi sebesar Rp 502,4 triliun.

Airlangga mengatakan subsidi digelontorkan agar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya Pertalite dan Pertamax tidak mengalami kenaikan atau bertahan di bawah harga keekonomian.

"Kita lihat harga keekonomian Pertamax Rp 15.150/liter, namun kita masih memberikan harga eceran Rp 12.500/liter, demikian pula Pertalite keekonomiannya Rp 13.150/liter, ecerannya masih Rp 7.650/liter," kata Airlangga dalam konferensi pers, Selasa (16/8/2022).

Airlangga lantas membandingkan harga BBM di negara lain dengan Indonesia yang dinilai masih jauh lebih murah.

"Thailand Rp 19.500/liter, Vietnam Rp 16.645/liter, Filipina Rp 21.352/liter, sehingga kita relatif di bawah dari negara ASEAN lain," ungkapnya.

Sejatinya, sinyal-sinyal kenaikan harga BBM sudah sering mencuat. Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkali-kali menyebut bahwa beban APBN menanggung subsidi energi sudah terlalu berat.

"Kita harus menahan harga Pertalite, gas, listrik, termasuk Pertamax, gede sekali. Tapi apakah angka Rp 502 triliun terus kuat kita pertahankan?," kata Jokowi di Istana Negara, Jumat (8/12/2022).

Subsidi Rp 502,4 triliun dirasa cukup besar dibandingkan dengan negara-negara lain. Terkait hal ini Jokowi tidak dapat memastikan apakah pemerintah mampu menahan harga-harga lewat subsidi atau tidak.

"Kalau bisa Alhamdulillah, artinya rakyat tidak terbebani. Tapi kalau APBN tidak kuat bagaimana? Negara lain harga BBM sudah Rp 17 ribu-Rp 18 ribu, naik 2 kali lipat semuanya. Ya memang harga keekonomiannya seperti itu," imbuhnya.

Sementara itu, di tempat yang berbeda Menteri Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia juga mengirimkan sinyal jika harga BBM subsidi akan naik. Dia menyebut angka subsidi bisa mencapai Rp 500 triliun sampai Rp 600 triliun.

"Sampai kapan APBN kita kuat menghadapi subsidi yang begitu tinggi? Jadi tolong sampaikan juga kepada rakyat, bahwa rasa-rasanya sih untuk menahan terus dengan harga BBM seperti sekarang, feeling saya sih harus siap-siap, kalau katakanlah kenaikan BBM itu terjadi," ungkapnya.

Simak juga Video: Belum Genap Sebulan Harga Pertamax dkk Naik Lagi

[Gambas:Video 20detik]



(aid/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT