ADVERTISEMENT

Begini Cara Pertamina Pasok BBM Subsidi ke Pelosok

Dea Duta Aulia - detikFinance
Jumat, 19 Agu 2022 19:20 WIB
SPBU terapung di Kayong Utara
Foto: Nurcholis Maarif/detikcom
Jakarta -

Wilayah 3T selama ini sulit mendapatkan BBM dengan harga yang sama dengan di kota-kota besar. Hal ini disebabkan oleh akses menuju wilayah 3T begitu menantang melalui medan yang sulit dan panjang.

Melalui Pertamina, pemerintah menghadirkan program BBM Satu Harga untuk memberikan akses kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan BBM dengan harga terjangkau, khususnya buat mereka yang berada di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T).

Program ini memiliki tantangan karena distribusi BBM ke wilayah pelosok tidak mudah. Meskipun begitu, Pertamina terus melakukan inovasi untuk program ini agar masyarakat di wilayah 3T merasakan membeli BBM dengan harga yang sama dengan yang ada di kota-kota besar.

Pertamina mencatat hingga Mei 2022, pihaknya memiliki 328 lembaga penyalur BBM Satu Harga yang tersebar di wilayah Indonesia. Adapun rinciannya, 63 lembaga penyalur BBM Satu Harga berada di wilayah Papua, 56 titik di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, 48 titik di Maluku, 32 titik di Sulawesi, 71 titik di Kalimantan, 53 titik di wilayah Sumatera, serta 5 titik di Pulau Jawa dan Bali. Sementara itu, untuk wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT terdapat 56 titik BBM Satu Harga yang telah beroperasi.

Tantangan Distribusi BBM ke Pelosok

Pertamina mengakui untuk mendistribusikan BBM ke sejumlah daerah pelosok menghadirkan tantangan berbeda-beda. Dilansir dari situs resmi Pertamina, sebagai contoh distribusi BBM ke Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Provinsi Sulawesi Utara yang menggunakan kapal. Proses distribusi tersebut sangat tergantung pada cuaca.

Penyaluran BBM ke kepulauan Sitaro dan kepulauan sekitarnya itu sendiri normalnya disalurkan bisa mencapai 2 hari, apabila cuaca sedang tidak bagus pengiriman pun dapat melebihi waktu 2 hari. Pengiriman BBM dilakukan dari Integrated Terminal Bitung, di mana kapal yang digunakan harus kapal besar karena distribusi yang sangat menantang mengarungi Samudera Pasifik.

Kapal besar ini pun dapat mengangkut banyak muatan BBM dalam sekali penyaluran sehingga penyaluran bisa lebih efisien untuk menyalurkan ke SPBU yang berada di kepulauan-kepulauan di bagian utara Sulawesi Utara.

Tantangan yang dihadapi Pertamina tidak berhenti sampai di situ. Contoh lainnya yakni saat distribusi ke Kecamatan Sumalata yang berada di Provinsi Gorontalo ini cukup berat dikarenakan akses jalan yang cukup sulit. Mobil tangki kapasitas 5 KL yang digunakan oleh Pertamina untuk mendistribusikan BBM harus melalui medan yang berbukit, jalanan kecil dan berbahaya karena melewati perbukitan dan jurang.

Belum lagi, wilayah yang dilalui sepanjang perjalanan distribusi BBM adalah wilayah rawan longsor dan medan perbukitan dengan elevasi yang cukup tinggi, sehingga para awak mobil tangki pun harus ekstra lebih hati-hati.

Kehadiran BBM Satu Harga pun turut dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar. Seorang warga desa Sukajaya Adi mengakui BBM Satu Harga bermanfaat bagi perekonomian masyarakat khususnya petani.

"Masyarakat di desa Sukajaya kini tidak perlu lagi menempuh jarak kurang lebih 70 kilometer untuk membeli BBM dengan harga yang sama dengan di kota," kata Adi.

Klik halaman selanjutnya >>>

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT