Bahlil Beberkan Siasat Lain Jika RI Kalah Gugatan WTO soal Nikel

ADVERTISEMENT

Bahlil Beberkan Siasat Lain Jika RI Kalah Gugatan WTO soal Nikel

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 08 Sep 2022 18:34 WIB
Bahlil Lahadalia
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia/Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah tak gentar jika nantinya Indonesia kalah dalam gugatan yang diajukan Uni Eropa (UE) kepada Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) terkait penghentian ekspor produk bijih nikel mentah. Hilirisasi tambang tetap menjadi komitmen pemerintah.

"Nggak ada masalah kalau katakanlah dia menang, kita buat aturan baru lagi. Yang jelas bahwa kita harus membuat kebijakan untuk melakukan hilirisasi yang maksimal di Indonesia," ujar Bahlil saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (8/9/2022).

Menurut Bahlil, jika UE menang gugatan, pemerintah akan membuat aturan baru yang nantinya membuat negara-negara Eropa berpikir ulang untuk mengimpor bijih nikel asal RI. Salah satunya dengan menaikkan pajak ekspor untuk komoditas bijih nikel.

"Contoh katakan lah kalau ekspor kita naikkan pajak yang tinggi emang mereka mau bikin apa? Negara kita nggak boleh diatur atur-atur oleh negara lain. Kita harus berdaulat, kita harus konsisten untuk program hilirisasi harus dijalankan," kata dia.

Bahlil menginginkan agar Indonesia ke depan bisa menjadi negara industrialis khususnya di baterai mobil listrik. Ketetapan itu tidak bisa diganggu gugat bagaimana pun caranya.

"Harusnya masing-masing negara menghargai kedaulatan dan harus menghargai perencanaan pengembangan ekonomi dari masing-masing negara. Nggak boleh lagi ada suatu negara yang merasa lebih hebat dari negara lain," tambahnya.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku legowo jika Indonesia kalah atas gugatan di WTO. Terpenting dengan melakukan penyetopan ekspor nikel mentah, Indonesia bisa mengubah tata kelola nikel di dalam negeri.

"Kelihatannya kita kalah (gugatan) di WTO, nggak apa-apa tapi industrinya sudah jadi dulu. Kalah nggak apa-apa, syukur bisa menang, tapi kalau kalah pun nggak apa-apa," terang Jokowi dalam acara Sarasehan 100 Ekonomi oleh INDEF dan CNBC Indonesia, Rabu (7/9/2022).

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia sudah menyetop ekspor nikel mentah sejak 2019. Melalui penyetopan ekspor nikel, kata Jokowi, lompatan pendapatan negara bisa naik menjadi 19 kali lipat.

"Di tahun 2021 ketika kita hilirisasi nikel, kita dapat US$ 20,9 miliar. Lompatannya, nilai tambah lompatannya 19 kali. Ini kalau mulai tarik lagi setop tembaga, timah dan nikel," ungkap Jokowi.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT