ADVERTISEMENT

Arab cs Mesti Waspada! Masa Keemasan Minyak Bumi Bakal Sirna

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 20 Sep 2022 08:15 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Negara timur tengah macam Arab Saudi dan sebagainya, sedang mengalami keuntungan besar dari penjualan energi yang disebabkan oleh perang di Ukraina. Harga energi telah melonjak ke level tertinggi selama perang terjadi dan menguntungkan negara-negara kaya minyak bumi itu.

Lonjakan harga energi yang dipicu oleh perang mengangkat negara-negara timur tengah keluar dari kemerosotan ekonomi selama hampir satu dekade. Kemerosotan ekonomi membuat mereka memotong pengeluaran dan mengalami defisit anggaran karena ekonomi mereka menyusut.

Invasi Rusia ke Ukraina telah membuat nilai minyak mentah mencapai level tertinggi delapan tahun. Namun, ledakan harga alias booming minyak bumi ini nampaknya akan menjadi yang terakhir kali dirasakan negara-negara timur tengah.

Dilansir dari CNN, Selasa (20/9/2022), negara-negara teluk telah mengalami booming minyak pada 1970-an, 1980-an, dan kemudian terjadi lagi di awal 2000-an.

Kampanye perubahan penggunaan energi ramah lingkungan di negara-negara barat mungkin akan membuat siklus ledakan harga minyak tidak terjadi lagi. Karen Young, peneliti senior di Pusat Kebijakan Energi Global Columbia menyarankan negara-negara timur tengah segera berbenah dan bersiap untuk hal tersebut.

"Ini jelas merupakan awal dari akhir kekayaan minyak pada tingkat yang berkelanjutan ini," kata Karen Young.

Negara-negara Barat telah bekerja keras untuk melakukan transisi energi terbarukan. Apalagi, saat ini transisi nampaknya makin mendesak daripada sebelumnya karena melihat dampak perang Ukraina secara drastis telah mengganggu saluran pasokan utama Eropa untuk minyak dan gas alam.

"Ledakan harga hari ini berbeda karena lebih dari sekadar krisis minyak. Ini adalah perubahan besar dalam struktur bagaimana kita memenuhi kebutuhan energi global," kata Karen Young.

Negara-negara timur tengah perlu melindungi diri dari fluktuasi harga minyak ke depannya. Mereka harus menggunakan rejeki nomplok saat ini untuk mendiversifikasi ekonomi mereka dari ketergantungan pada penjualan minyak.

Selama ledakan harga minyak sebelumnya, negara-negara timur tengah justru terlihat menghambur-hamburkan kekayaan mereka untuk investasi yang sia-sia dan tidak efisien. Kemudian, ketika harga minyak kembali turun dan stabil pada level normal negara-negara itu justru kelabakan.

"Seringkali proyek pembangunan dimulai dan kemudian ditinggalkan ketika uang minyak habis," kata Ellen Wald, seorang rekan senior nonresiden di Dewan Atlantik di Washington, D.C.

Sebuah laporan yang dipublikasikan pada Mei 2022 oleh Bank Dunia meminta kekayaan yang diperoleh oleh negara-negara timur tengah pasca-pandemi dan setelah perang Ukraina harus segera diinvestasikan dalam transisi ekonomi dan lingkungan di blok tersebut.

"Fokus pada investasi dalam transisi energi sangat penting karena banyak bagian dunia mempercepat transisi energi terbarukan mereka," kata laporan tersebut.

Negara-negara timur tengah tampaknya sedang melakukan diversifikasi. Sejak ledakan minyak terakhir yang berakhir pada 2014, empat dari enam negara Teluk telah memberlakukan pajak pertambahan nilai. Uni Arab Emirat (UAE) malah telah melangkah lebih jauh dengan memulai retribusi pendapatan perusahaan. Selama ini tidak ada satu pun dari negara-negara timur tengah memiliki pajak penghasilan.

Sementara itu, Arab Saudi telah berinvestasi di sektor non-minyak seperti pariwisata, meskipun para ahli meragukan kemampuan sektor itu untuk mengimbangi pendapatan minyak. Pasalnya kerajaan itu bisa menghasilkan sekitar satu miliar dolar per hari dari minyak dengan harga saat ini.

Lihat juga video 'Mendag Zulkifli Hasan Ingin Produk Indonesia Kuasai Arab Saudi':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT