Siap-siap! Harga Minyak Dunia Bakal Naik Lagi

ADVERTISEMENT

Siap-siap! Harga Minyak Dunia Bakal Naik Lagi

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 06 Okt 2022 07:56 WIB
Sejumlah kendaraan antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Tol Sidoarjo 54.612.48, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (11/4/2022). Pemerintah menetapkan Pertalite sebagai jenis BBM khusus penugasan yang dijual dengan harga Rp7.650 per liter dan Biosolar Rp5.510 per liter, sementara jenis Pertamax harganya disesuaikan untuk menjaga daya beli masyarakat yakni menjadi Rp 12.500 per liter dimana Pertamina masih menanggung selisih Rp3.500 dari harga keekonomiannya sebesar Rp16.000 per liter di tengah kenaikan harga minyak dunia. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Harga minyak dunia diperkirakan bakal meroket dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini terjadi setelah negara-negara penghasil minyak dunia yang tergabung dalam Organization of the Petroleim Exporting Countries (OPEC) akan mengurangi produksi dan eskpor minyaknya.

Anggota OPEC, termasuk Arab Saudi dan Rusia mengatakan mereka sepakat memangkas produksi hingga 2 juta barel per hari. Keputusan ini diperkirakan akan menaikkan harga bensin di seluruh dunia.

Dilansir dari BBC, Kamis (6/10/2022), OPEC mengatakan ingin menstabilkan harga, yang telah jatuh dalam beberapa bulan terakhir karena ekonomi dunia melambat.

Rencana pengurangan produksi ini telah mendorong harga minyak meroket tinggi minggu ini. Harga satu barel minyak mentah Brent melonjak hampir 2% menjadi lebih dari US$ 93 per barel pada hari Rabu, bukan tidak mungkin harga minyak menyentuh US$ 100 per barel lagi.

Seorang juru bicara kelompok otomotif RAC mengatakan pengurangan yang diumumkan Rabu memang akan menyebabkan harga minyak menjadi lebih tinggi. Ujungnya, memaksa biaya grosir bahan bakar.

"Pertanyaannya adalah kapan, dan sejauh mana, pengecer memilih untuk meneruskan peningkatan biaya ini ke konsumen mereka," kata juru bicara RAC Simon Williams.

Langkah OPEC kali ini dinilai menjadi pengurangan produksi terbesar oleh kelompok itu sejak puncak pandemi pada 2020. Hal ini terjadi meskipun ada permintaan dari AS dan negara lainnya untuk memompa lebih banyak agar harga tidak terus menerus mahal.

Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengatakan Presiden AS Joe Biden sangat kecewa dengan keputusan yang disebut 'picik' itu.

Pemerintah Joe Biden berjanji untuk tidak menahan minyak dari stok nasional dan mencari cara lain untuk mencoba mengendalikan harga di tempat pengisian bensin.

Langkah itu juga kemungkinan akan mengganggu upaya pimpinan AS untuk menetapkan batas harga minyak dari Rusia, sebuah rencana yang telah disarankan AS sebagai cara untuk membatasi aliran uang ke negara itu dan digunakan untuk keperluan militer.

Anggota OPEC membela keputusan mereka sebagai tanggapan terhadap ketidakpastian yang signifikan tentang permintaan minyak di masa depan. Saat ini semua berdiri di tengah kekhawatiran ekonomi global menuju resesi.

"Keputusannya bersifat teknis, bukan politis," kata Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazroui.

Lihat juga video 'Jawaban Dirut Pertamina soal Minyak Dunia Turun Tapi BBM Subsidi Naik':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT