ADVERTISEMENT

Siap-siap Harga BBM Naik Lagi, Ini Biang Keroknya!

Ilyas Fadhillah - detikFinance
Jumat, 07 Okt 2022 08:32 WIB
Sejumlah kendaraan antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Tol Sidoarjo 54.612.48, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (11/4/2022). Pemerintah menetapkan Pertalite sebagai jenis BBM khusus penugasan yang dijual dengan harga Rp7.650 per liter dan Biosolar Rp5.510 per liter, sementara jenis Pertamax harganya disesuaikan untuk menjaga daya beli masyarakat yakni menjadi Rp 12.500 per liter dimana Pertamina masih menanggung selisih Rp3.500 dari harga keekonomiannya sebesar Rp16.000 per liter di tengah kenaikan harga minyak dunia. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.
Harga BBM/Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Negara-negara pengekspor minyak bumi atau OPEC + sepakat memangkas produksi minyak mereka. Keputusan ini berpotensi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di seluruh dunia.

Anggota OPEC+ mencakup beberapa negara, termasuk Arab Saudi dan Rusia. Mereka berencana memangkas produksi hingga dua juta barel per hari.

OPEC + beralasan ingin menstabilkan harga minyak yang telah jatuh akibat melambatnya ekonomi dunia. Namun keputusan itu menimbulkan kekhawatiran harga BBM akan naik.

Melansir dari BBC, Jumat (7/10/2022), rencana pemangkasan itu mendorong harga minyak dunia naik minggu ini. Harga satu barel minyak mentah Brent melonjak hampir 2% menjadi lebih dari US$ 93 per barel pada hari Rabu.

Juru bicara kelompok otomotif RAC, Simon Williams mengatakan, kenaikan harga minyak tidak terhindarkan akibat pemangkasan tersebut. Keputusan memangkas produksi minyak menjadi yang terbesar sejak pandemi tahun 2020.

Rencana OPEC tetap bergema meskipun ada permintaan dari Amerika Serikat (AS)dan lainnya untuk menjaga produksi minyak tetap banyak. Apalagi perang di Ukraina menyebabkan harga minyak melonjak tajam akibat pasokan yang terhambat.

Dalam sebuah pernyataan resminya, Presiden AS Joe Biden kecewa dengan keputusan OPEC. Namun berjanji untuk terus melepaskan minyak dari stok nasional sebagaimana mestinya.

AS juga mencari cara lain untuk mengendalikan harga di sektor hulu. Langkah itu juga kemungkinan akan mengganggu upaya AS dalam menetapkan batas harga minyak dari Rusia

Sebelumnya AS berencana membatasi harga minyak Rusia untuk mengurangi aliran kas yang digunakan berperang di Ukraina.

Anggota OPEC membela keputusan mereka sebagai tanggapan terhadap "ketidakpastian" yang signifikan tentang permintaan minyak di masa depan. Apalagi ada kekhawatiran bahwa ekonomi global sedang menuju resesi.

"Keputusannya bersifat teknis, bukan politis," kata Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazroui kepada wartawan saat anggota OPEC+ berkumpul di Wina untuk membahas rencana tersebut.



Simak Video "Buruh Akan Kepung Istana Hari Ini, Tuntut Harga BBM dan Kenaikan Upah"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT