Luhut Beberkan Isi Surat Menkeu AS Janet Yellen soal Dana Rp 300 T

ADVERTISEMENT

Luhut Beberkan Isi Surat Menkeu AS Janet Yellen soal Dana Rp 300 T

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 06 Des 2022 21:21 WIB
WASHINGTON, DC - SEPTEMBER 16: U.S. Treasury Secretary Janet Yellen leaves her office as she heads to a meeting with Indonesian Coordinating Minister For Maritime Affairs And Investment Luhut Binsar Pandjaitan at the Treasury Building September 16, 2022 in Washington, DC. Earlier in the week, Yellen stated in an interview that inflation remains a problem for the U.S. (Photo by Drew Angerer/Getty Images)
Menko Luhut Binsar Pandjaitan dan Menkeu AS Janet Yellen/Foto: Getty Images/Drew Angerer
Jakarta -

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bercerita telah berkomunikasi dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) soal pendanaan transisi energi.

Sebelumnya pada KTT G20 di Bali November kemarin, Indonesia mendapatkan komitmen pendanaan sebesar Rp 300 triliun dari AS. Komitmen itu masuk dalam Just Energy Transition Partnership (JETP).

Luhut pun bercerita soal isi surat dari Menteri Keuangan AS Janet Yellen kepada pemerintah yang begitu panjang. Dalam surat tersebut Yellen mengapresiasi Indonesia yang menanggapi serius pendanaan transisi energi dari AS.

"Tetapi ini diskusi yang panjang, tapi saya sangat menghargai karena Yellen mengirimkan saya surat yang sangat bagus. Saya sangat terkejut suratnya begitu panjang. Isinya dia menghargai pemerintah Indonesia, bagaimana kita menanggapi JETP ini dan kesenjangan (transisi energi) ini," ujar Luhut dalam US-Indonesia Investment Summit 2022, Hotel Mandarin Oriental Jakarta Pusat, Selasa (6/12/2022).

Indonesia, Luhut menegaskan, paham mengenai isu transisi energi di dunia. Namun, kontribusi Indonesia dalam emisi karbon kecil di antara negara G20.

Menurut Luhut, negara maju seperti AS harus menunggu Indonesia untuk mencapai titik emisi karbon yang sudah dicapai negara lainnya. Hingga kemudian penurunan emisi karbon tersebut bisa dilakukan bersama-sama.

"Emisi karbon per kapita Indonesia hanya 2,3 juta ton per kapita dan baseline 4,5 (juta ton) negara besar di sini kira-kira 14,7 ton per kapita. Jadi saya bilang ke dia ini. Dia terdiam dan mengatakan saya (tanggapan) adil. Kalau ditanya kita begini sedangkan 'di sini 2,3 juta kamu 14,7 juta, baseline 4,5 lalu kita harus turun seperti ini," jelasnya.

Meski begitu, Luhut mengapresiasi Yellen yang juga mau memahami kondisi di Indonesia. "Saya menghormati, karena menjadi seorang profesor yang terkenal dan dia sangat memahami gagasan ini," tutupnya.

Sebagai informasi, dalam agenda KTT G20 di Bali beberapa hari lalu Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengungkapkan negara-negara yang tergabung dalam G7 berkomitmen mendanai Indonesia hingga US$ 20 miliar atau Rp 310,4 triliun untuk mempercepat pelaksanaan transisi energi.

Biden mengatakan komitmen US$ 20 miliar dalam rangka mendukung pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan percepatan transisi energi melalui penghentian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.

"Kami dengan Indonesia dan Jepang bersama-sama menciptakan Just Energy Transition Partnership (JETP) untuk mencapai Net Zero Emissions. Bersama kami memobilisasi US$ 20 miliar untuk mendukung upaya Indonesia mengurangi emisi dan memperluas EBT," kata Biden dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, Selasa (15/11/2022).

(ada/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT