Produksi batubara Indonesia menunjukkan penyesuaian seiring dinamika global dan kebutuhan nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut tahun 2024 produksi tercatat 836 juta ton lalu menurun pada 2025 menjadi 817 juta ton.
Dua faktor utama penyebab penurunan produksi tahun 2025 antara lain menurunnya permintaan dari China dan India. Lalu, meningkatnya permintaan batu bara di dalam negeri untuk kebutuhan listrik dan smelter.
"Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan dari negara mitra utama, serta penyesuaian kebijakan untuk memastikan pemenuhan kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas, khususnya untuk listrik dan smelter," tulis unggahan akun Instagram @ditjenminerba, Jumat (30/1/2026).
Dengan target produksi sekitar 600 juta ton dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 128 triliun, arah kebijakan produksi batubara tahun 2026 difokuskan pada kesesuaian kebutuhan domestik dan penguatan ketahanan energi nasional.
Sebagaimana disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Dirjen Minerba Tri Winarno, produksi akan diselaraskan agar pasokan tetap terjaga, harga stabil, serta cadangan energi bagi generasi mendatang tetap aman.
"Realisasi produksi batubara nasional yang mencapai lebih 790 juta ton pada tahun 2025, akan kita pangkas menjadi kurang lebih 600 juta ton," ujar Bahlil bebrapa waktu lalu (8/1).
Upaya penyelarasan antara suplai dan permintaan tersebut dinilai penting, tidak hanya untuk menjaga stabilitas harga komoditas batubara, tetapi juga untuk menjamin ketersediaan cadangan energi bagi generasi mendatang.
"Fokusnya adalah kesesuaian dengan kebutuhan domestik, serta menjaga ketahanan energi,"
sebut Tri, (19/01)
(acd/acd)