Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan Indonesia akan memanfaatkan arus laut untuk menghasilkan listrik. Pemanfaatan arus laut ini tertuang dalam RUPTL PLN 2025-2034.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengungkapkan Indonesia merupakan negara kepulauan yang cangkupan lautnya sangat besar. Oleh karena itu potensi yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Adapun potensi energi laut Indonesia mencapai 63 GW (gigawatt). Dalam RUPTL tersebut, pemerintah menetapkan target pemanfaatan energi dari gelombang laut sebesar 0,04 GW atau 40 MW.
Berdasarkan paparan sebelumnya, lokasi pengembangan gelombang arus laut rencananya berada di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Masing-masing akan memiliki pasokan yakni 20 MW.
"Ada laut, kita juga punya. Nah ini target di RUPTL mulai muncul tahun ini. Jadi mulai muncul nih baru pembangkit listrik tenaga arus laut. Jadi menggunakan arus laut untuk men-generate energi jadi listrik nantinya," ujar Eniya dikutip dari Podcast Bukan Abuleke YouTube Kementerian ESDM, Minggu (15/2/2026).
Selain arus laut, Eniya juga menyebutkan potensi yang besar dari panas bumi. Kemudian, ada juga pembangkit listrik tenaga surya yang memiliki potensi mencapai 3.600 GW. Potensi tersebut, kata Eniya merupakan peluang besar yang akan dimanfaatkan secara optimal.
"Karena kalau misalnya Jerman, cuma mention tentang surya, angin, paling sedikit hidro. Kalau Belanda, hidrolah, angin juga banyak. Tapi mereka nggak mention geothermal. Indonesia ada," katanya.
"Kita kan punya banyak nih, dari tadi tenaga surya, kita potensi paling besar. Itu potensinya hampir berapa ya, 3.600 giga. Itu banyak banget," tambahnya.
(acd/acd)