Eskalasi ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian serius terhadap stabilitas energi nasional. Jalur tersebut dilalui 20% perdagangan minyak dan LNG dunia.
Menurut Anggota Komisi VI DPR RI , Firnando Ganinduto gangguan di kawasan ini memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia. Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu merespons situasi ini secara cepat dan strategis.
"Mengacu pada pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang menyebut sekitar 20-25% impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gangguan distribusi dan fluktuasi harga global yang dapat berdampak langsung pada APBN," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang telah mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke AS sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasokan. Menurutnya, kebijakan ini penting untuk menjaga kepastian suplai energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik.
Selain itu, ia juga menyoroti bahwa sekitar 30% impor LPG Indonesia masih bergantung pada kawasan Timur Tengah, sehingga perlu segera dicari alternatif pemasok dari wilayah lain. Meski pemerintah memastikan bahwa pasokan energi domestik masih aman untuk beberapa minggu ke depan, Firnando menilai mitigasi jangka pendek harus dibarengi dengan langkah struktural jangka panjang.
Ia mendorong Pertamina memperkuat strategi pengamanan pasokan sekaligus memperluas jaringan perdagangan energi yang lebih beragam guna mengurangi risiko ketergantungan pada satu kawasan.
Lebih jauh, Firnando menegaskan bahwa situasi ini harus menjadi momentum untuk mempercepat penguatan produksi migas dalam negeri dan mendorong transisi energi baru terbarukan. Menurutnya, diversifikasi impor hanyalah solusi taktis, sementara kemandirian dan ketahanan energi nasional adalah strategi jangka panjang yang akan menentukan stabilitas ekonomi Indonesia ke depan.
(ily/ara)










































