Goldman Sachs mengatakan harga minyak kemungkinan akan melebihi US$ 100 per barel minggu depan jika Selat Hormuz tidak dibuka. Penutupan terjadi imbas perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Perkiraan harga Brent berada di kisaran US$ 80-an untuk bulan Maret dan US$ 70-an untuk kuartal II. Saat ini diperkirakan rata-rata pergerakan perdagangan Selat Hormuz turun 90%.
"Kami sekarang juga berpikir kemungkinan harga minyak, terutama untuk produk olahan, akan melebihi puncak tahun 2008 dan 2022 jika Selat Hormuz tetap tertekan sepanjang bulan Maret," kata Goldman Sachs dikutip dari Reuters, Sabtu (7/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan internasional. Harga minyak mentah pada hari Jumat saja telah mencatatkan kenaikan mingguan terkuat sejak volatilitas ekstrem pandemi COVID-19.
Sementara itu, sebelumnya, lembaga keuangan global Barclays mengatakan bahwa minyak mentah Brent berpotensi naik ke level US$ 120 per barel jika konflik di Timur Tengah berlanjut selama beberapa minggu lagi.
(ada/ara)










































