×
Ad

Respons Trump, Iran Ancam Serang Pembangkit Listrik di Timur Tengah

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 23 Mar 2026 18:46 WIB
Ilustrasi.Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Jakarta -

Iran mengancam akan menyerang pembangkit listrik di seluruh Timur Tengah jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menindaklanjuti gertakan mengebom pembangkit listrik Iran.

Mengutip AP News, Senin (23/3/2026), ancaman untuk mengebom pembangkit listrik Iran disampaikan Trump seiring dengan permintaannya agar Selat Hormuz kembali dibuka dalam kurun waktu 48 jam. Namun Iran justru mengancam akan melakukan serangan balik.

Garda Revolusi paramiliter Iran mengatakan pada hari Senin bahwa jika AS melakukan itu, Iran akan membalas dengan menyerang pembangkit listrik di semua daerah yang memasok listrik ke pangkalan Amerika. Ini termasuk dengan infrastruktur ekonomi, industri, dan energi di mana Amerika memiliki saham.

"Jangan ragu bahwa kami akan melakukan ini," kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di televisi pemerintah Iran.

Ancaman Teheran ini membahayakan pasokan listrik dan air di negara-negara Arab Teluk. Hal ini karena negara-negara gurun tersebut menggabungkan pembangkit listrik mereka dengan pabrik desalinasi yang sangat penting untuk memasok air minum.

Setelah ancaman tersebut, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, menerbitkan daftar fasilitas tersebut, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir Uni Emirat Arab.

Seiring meningkatnya kekhawatiran di Teheran tentang potensi kedatangan Marinir AS di wilayah tersebut, Dewan Pertahanan Iran memperingatkan terhadap gagasan invasi.

"Setiap upaya musuh untuk menargetkan pantai atau pulau-pulau Iran, secara alami dan sesuai dengan praktik militer yang telah ditetapkan, akan menyebabkan pemasangan ranjau di semua jalur akses ... di Teluk Persia dan di sepanjang pantai," demikian pernyataan tersebut.

Kepala Badan Energi Internasional yang berbasis di Paris, Fatih Birol, mengatakan krisis di Timur Tengah telah berdampak lebih buruk pada pasar energi daripada gabungan dua guncangan minyak tahun 1970-an dan perang Rusia-Ukraina.

"Tidak ada negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini jika terus berjalan ke arah ini," kata Birol kepada National Press Club Australia di Canberra.

Pejabat senior PBB, Jorge Moreira da Silva, mengatakan dunia telah melihat efek domino dari perang ini. Hal ini mulai dari kenaikan harga minyak, bahan bakar, hingga gas secara eksponensial yang berdampak luas pada jutaan orang, terutama di negara-negara berkembang Asia dan Afrika.

"Tidak ada solusi militer," kata dia.

Harga Minyak Naik

Harga minyak tetap tinggi pada perdagangan awal, dengan harga minyak mentah Brent, standar internasional, sekitar US$ 112 per barel, naik hampir 55% sejak Israel dan AS memulai perang pada 28 Februari dengan menyerang Iran.

Perang tersebut juga menyebabkan fluktuasi liar di pasar saham global karena para pedagang semakin khawatir tentang krisis energi dunia dan masalah lainnya.

Selain menargetkan Israel dan pangkalan Amerika, Iran juga menyerang infrastruktur energi negara-negara tetangganya di Teluk Arab.

Iran juga memiliki kendali ketat atas pelayaran melalui Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia ke laut lepas dan dilalui oleh seperlima minyak dunia, bersama dengan komoditas penting lainnya.

Sejumlah kecil kapal telah berhasil melewati selat tersebut. Iran juga bersikeras bahwa selat itu tetap terbuka, hanya saja tidak untuk AS, Israel, atau sekutu mereka.




(shc/hns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork