×
Ad

Harga Minyak-LPG Dunia Melonjak Imbas Perang di Timur Tengah

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 11 Mei 2026 15:13 WIB
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Jakarta -

Konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta jalur distribusi energi telah menciptakan tekanan besar terhadap pasar energi global. Hal ini mendorong tren kenaikan harga BBM, LPG, hingga LNG di berbagai negara.

Menurut Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro kebutuhan energi harus diamankan oleh negara.

"Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua, pertama kebutuhan pangan dan kedua energi. Jadi, kalau ada ketegangan politik, dua hal itu diamankan," ungkap Komaidi dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2026).

Komaidi mengatakan bahwa kenaikan harga energi akibat geopolitik saat ini bersifat non-fundamental. Situasi semakin sulit ketika jalur distribusi global terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.

"Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya," sebut Komaidi.

Ketika harga minyak dunia melonjak, otomatis harga energi lain termasuk produk gas seperti LPG dan LNG ikut mengalami kenaikan. Di Indonesia, penyesuaian harga LPG industri non subsidi 50 kg telah mengalami penyesuaian mengikuti kenaikan harga LPG global berbasis CP Aramco.

Harga LPG industri tercatat meningkat 25-26%, dari sekitar US$ 21,9 per MMBtu menjadi sekitar US$ 28,3 per MMBtu. Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kg naik dari sekitar Rp 850 ribu menjadi sekitar Rp 1,06 juta per tabung pada Mei 2026.

Begitu juga untuk BBM nonsubsidi di dalam negeri. Indonesia telah memulai proses adaptasi tersebut melalui mekanisme penyesuaian harga BBM non subsidi pada Mei 2026 yang mengikuti dinamika pasar dan biaya energi global.

Terutama pada solar industri nonsubsidi yang mengalami kenaikan signifikan sekitar 77-84%, dari sekitar US$ 22,7 per MMBtu menjadi sekitar US$ 43 per MMBtu pada Mei 2026. Dalam rupiah, harga solar industri meningkat dari kisaran Rp 14.200-14.500 per liter menjadi sekitar Rp 26.000-27.900 per liter.

Merujuk data sejumlah lembaga energi internasional, harga energi regional diperkirakan dapat meningkat signifikan apabila terjadi gangguan distribusi atau eskalasi konflik global. Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai memperkuat strategi ketahanan energinya melalui diversifikasi sumber energi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian kebijakan energi domestik.




(hal/ara)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork