×
Ad

Harga Minyak Dunia Turun Dipicu Sinyal Pembukaan Selat Hormuz

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 13 Jun 2026 09:45 WIB
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Jakarta -

Harga minyak mulai turun seiring Iran yang akan menyepakati pembukaan Selat Hormuz. Kesepakatan ini dilakukan bersama dengan Amerika Serikat (AS).

Harga minyak mentah AS berjangka turun 3,2% menjadi US$ 84,88 per barel. Brent berjangka, patokan internasional, kehilangan 3,4% menjadi US$ 87,33 per barel.

Secara mingguan harga minyak telah turun sekitar 6%. Meskipun masih naik lebih dari 20% sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

Berdasarkan sumber yang juga pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengatakan terdapat peluang 80% bahwa AS dan Iran akan menandatangani perjanjian dalam beberapa hari mendatang.

"Bukan 100%. Sistem mereka sangat rumit. Sebagian besar orang yang telah kami ajak bicara dan sebagian besar orang yang memiliki wewenang dalam sistem mereka ingin menandatangani kesepakatan ini, tetapi tidak semua orang," kata dia dikutip dari CNBC, Sabtu (13/6/2026).

Tidak hanya membuka kembali Selat Hormuz, tetapi juga akan mencabut blokade angkatan laut AS, membongkar program nuklir Iran, dan menghilangkan uranium yang diperkaya. Sebagai timbal balik, Iran akan menerima insentif keuangan dari AS jika mereka mematuhi perjanjian tersebut.

Di sisi lain, kantor berita pemerintah Iran, Mehr, melaporkan rancangan kesepakatan yang menyebut AS akan menarik pasukannya dari sekitar wilayah Iran, mencabut blokade angkatan laut dalam 30 hari, serta menyediakan dana rekonstruksi sebesar US$ 300 miliar.

Selat Hormuz Mau Dibuka Lagi

Sebagai balasan, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dalam 30 hari dengan pengaturan yang ditetapkan Teheran. Namun, Trump membantah dokumen yang beredar tersebut merupakan isi kesepakatan resmi.

"Syarat-syarat yang dibocorkan Iran kepada media berita palsu tidak ada hubungannya dengan syarat-syarat yang telah disepakati secara tertulis. Mereka sebaiknya segera memperbaiki diri!" tulis Trump melalui Truth Social.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang berperan sebagai mediator menyebut kampanye disinformasi tengah dilakukan pihak-pihak yang ingin menggagalkan proses perdamaian. Menurut Sharif, naskah akhir kesepakatan telah disepakati dan Pakistan kini bekerja sama dengan kedua negara untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya.

"Perdamaian belum pernah sedekat ini seperti sekarang," katanya.

Pernyataan senada disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. Ia mengatakan nota kesepahaman antara AS dan Iran belum pernah sedekat ini, namun meminta publik menunggu hingga proses finalisasi selesai sebelum berspekulasi mengenai isi kesepakatan.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menepis berbagai informasi yang beredar mengenai isi perjanjian. Ia menegaskan Iran tidak akan menerima dana tunai hanya karena menandatangani kesepakatan. Menurut Vance, manfaat ekonomi baru akan diberikan apabila Iran memenuhi seluruh kewajibannya dalam perjanjian tersebut.




(ada/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork