×
Ad

Pertamina Ungkap Berbagai Strategi Wujudkan Ketahanan Energi Nasional

Inkana Putri - detikFinance
Minggu, 09 Agu 2026 08:57 WIB
Foto: Pertamina
Jakarta -

Pemerintah Indonesia terus mendorong terwujudnya ketahanan energi nasional guna memastikan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai penting mengingat energi menjadi salah satu kebutuhan dasar yang mendukung aktivitas ekonomi, industri, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat.

Presiden RI Prabowo Subianto menekankan bahwa energi merupakan salah satu sektor paling strategis bagi keberlangsungan sebuah negara, selain pangan. Oleh karena itu, Indonesia harus mampu mandiri agar tetap kuat dan berdaulat di tengah dinamika global.

"Negara yang sebesar kita kalau masih mau merdeka, kalau masih mau survive bertahan hidup, mau tidak mau kita harus mandiri dan energi adalah salah satu bidang yang sangat menentukan," ujar Prabowo dikutip dari situs presiden.go.id, Senin (1/6/2026).

Sejalan dengan hal ini, PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan yang bergerak di sektor energi, terus mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi. Pasalnya, energi merupakan hal mendasar dalam kegiatan masyarakat.

"Menjawab kebutuhan dan tantangan dimaksud, Pertamina menjalankan Dual Growth Strategy yang berfokus pada dua pilar utama, yakni Maximizing Legacy Business dan Building Low Carbon Business," kata Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza.

Strategi ini disusun untuk memastikan kecukupan kebutuhan energi saat ini sekaligus persiapan transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan di masa depan. Dua strategi yang dijalankan secara bersamaan untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Perkuat Bisnis Inti Migas

Pada pilar Maximizing Legacy Business, Pertamina berfokus memperkuat bisnis inti migas untuk memenuhi kebutuhan nasional. Dalam memperkuat bisnis migas, Pertamina terus melakukan peningkatan produksi hulu migas. Upaya ini dilakukan memperkuat produksi minyak dan gas bumi domestik sebagai fondasi utama ketahanan energi nasional.

Oki menjelaskan bahwa sektor hulu memegang peranan penting dalam mewujudkan ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, Pertamina terus mengoptimalkan aset-aset produksinya.

"Setiap peningkatan produksi dari lapangan migas merupakan kontribusi nyata Pertamina dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui pengelolaan aset yang semakin andal, efisien, dan berkelanjutan, Pertamina terus mendukung pencapaian target produksi migas nasional," ucap Oki.

Hingga akhir semester I 2026, produksi migas PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina mencapai 935 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), yang terdiri atas produksi minyak sebesar 459 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas sebesar 2.756 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Kinerja tersebut didukung oleh pelaksanaan berbagai program pengembangan dan pemeliharaan sumur yang berjalan sesuai rencana. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, PHE telah menyelesaikan pengeboran 278 sumur eksploitasi, melaksanakan 601 kegiatan workover, serta 13.870 kegiatan well service sebagai upaya menjaga keandalan aset dan mempertahankan tingkat produksi.

Di sisi eksplorasi, PHE terus memperkuat upaya pencarian sumber daya migas baru. Hingga Juni 2026, perusahaan telah menyelesaikan pengeboran 9 sumur eksplorasi, survei seismik 2D sepanjang 189 kilometer, dan survei seismik 3D seluas 2.848 kilometer persegi. Aktivitas tersebut menghasilkan penemuan sumber daya kontingen (2C) sebesar 108 juta barel setara minyak (MMBOE) serta penambahan cadangan terbukti (P1) sebesar 24,9 MMBOE.

Tidak hanya memaksimalkan produksi migas dalam negeri, Pertamina melaksanakan program Bring Barrel Home yaitu untuk mengirimkan minyak mentah dari aset hulu luar negeri ke Indonesia guna memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

Selanjutnya, Pertamina juga terus melakukan pengembangan kilang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk energi. Penguatan sektor pengolahan dinilai penting agar Indonesia memiliki kemampuan yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional.

"Selain memastikan kehandalan kilang, Pertamina juga melakukan peningkatan kompleksitas kilang. Salah satunya melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek yang akan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan menjadi setara euro 5," kata Oki.

Saat ini, Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengoperasikan enam kilang yakni Kilang Dumai di Riau, Kilang Plaju Sumatera Selatan, Kilang Balongan di Jawa Barat, Kilang Cilacap di Jawa Tengah, Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, dan Kilang Kasim di Papua Barat Daya.

Adapun keenam kilang yang beroperasi saat ini mampu mengolah minyak mentah hingga 1,1 juta barel per hari, dan menghasilkan berbagai jenis produk, BBM, LPG, Avtur, dan Petrokimia.

Di sektor gas, Pertamina menjalankan bisnis gas terintegrasi untuk memperkuat rantai pasok dan memastikan kebutuhan gas nasional dapat terpenuhi. Upaya ini dilakukan dengan pengembangan ruas pipa transmisi gas baru, jaringan gas rumah tangga baru dan proyek-proyek fasilitas gas lainnya di seluruh Indonesia. Dengan begitu, pasokan energi bagi industri, pembangkit listrik, dan masyarakat dapat terjaga secara berkelanjutan.

Sementara pada sektor hilir, Pertamina melakukan transformasi bisnis BBM dan retail melalui digitalisasi layanan MyPertamina serta pengembangan bisnis non-retail. Melalui MyPertamina, masyarakat dapat menikmati kemudahan pembayaran digital, penawaran berbagai promo dan program loyalti. Pertamina juga melakukan sejumlah inisiatif melalui pengembangan Bright Store hingga pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sejumlah SPBU.

Pengembangan Bisnis Rendah Karbon

Pertamina juga membangun masa depan energi yang lebih ramah lingkungan dengan mengembangkan bisnis rendah karbon. Pengembangan bisnis rendah karbon dilakukan melalui pengembangan produk-produk nabati sebagai BBM.

"Pertamina berkomitmen mendukung program pemerintah dalam hal pengoptimalan sumber daya alam nabati untuk mendukung ketahanan energi. Sejak awal Juli, Pemerintah menetapkan B50 mandatori. Dan Pertamina menjadi salah satu bagian penting dalam menjalankan kebijakan pemerintah tersebut.

Pertamina juga mendorong peningkatan produk biofuel sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi. Pengembangan ini mencakup produk biofuel dari proyek Green Refinery serta berbagai program pencampuran bahan bakar berbasis energi terbarukan.

Di tahun 2022, Pertamina meluncurkan produk Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan merek dagang Pertamina Renewable Diesel (Pertamina RD). Di tahun 2025, Pertamina juga meluncurkan inovasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF), yakni bahan bakar pesawat yang berasal dari limbah minyak goreng bekas atau yang biasa disebut jelantah (Used Cooking Oil - UCO). SAF mampu memangkas emisi karbon hingga 84 persen dibandingkan avtur fosil.

"Teknologi SAF ini sepenuhnya dikembangkan oleh insinyur dalam negeri, membuktikan kapasitas Indonesia sebagai regional champion energi hijau," kata Oki.

Tidak hanya itu, Pertamina juga mengembangkan berbagai bisnis endah karbon lainnya, mulai dari program dekarbonisasi, teknologi Carbon Capture Utilization and Storage/Carbon Capture and Storage (CCUS/CCS), gas to power, pengembangan hidrogen, solusi berbasis alam (nature-based solutions), hingga perdagangan karbon.

Selain itu, Pertamina adalah melakukan ekspansi kapasitas geothermal (panas bumi). Upaya ini dilakukan melalui pengembangan wilayah kerja yang telah ada maupun pembukaan area baru dengan pemanfaatan teknologi terkini.

Dual Growth Strategy, Cara Menjaga Ketahanan Energi Nasional

Strategi yang dilakukan Pertamina menunjukkan bahwa pengembangan bisnis berbasis fosil dengan bisnis rendah karbon merupakan langkah strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Seluruh implementasi strategi ini dijalankan oleh seluruh subholding Pertamina sesuai karakteristik bisnis masing-masing. Melalui langkah tersebut, Pertamina tidak hanya berupaya menjaga keandalan pasokan energi saat ini, tetapi juga memastikan sumber energi yang lebih berkelanjutan.

Bagi masyarakat, penguatan bisnis inti Pertamina berkontribusi pada terjaganya ketersediaan energi untuk kebutuhan rumah tangga, transportasi, dan industri. Di sisi lain, pengembangan energi rendah karbon turut mendorong terciptanya sistem energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.



Simak Video "Pertamina Talks 2026 Kupas Ketahanan Energi di Tengah Situasi Global di Episode Perdana"

(anl/ega)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork