Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan selama sepekan terakhir seiring memanasnya konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang membuat gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Melansir Reuters, Jumat (21/8/2026), harga minyak mentah Brent berjangka yang kerap menjadi patokan global naik 4 sen menjadi US$ 93,82 per barel pada awal perdagangan hari ini per pukul 01.42 GMT (08.42 WIB). Padahal di hari sebelumnya, harga minyak mentah ini sudah naik 2,4%.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka tercatat turun 6 sen menjadi US$ 86,78 per barel pada awal perdagangan ini. Namun di hari sebelumnya, minyak WTI tercatat telah naik hingga 2,3%.
Jika dilihat selama lima hari terakhir, harga minyak mentah Brent tercatat sudah naik lebih dari 7% dan WTI naik lebih dari 8%. Ini merupakan level tertinggi sejak 24 Juli lalu.
Secara umum, kenaikan harga minyak dipicu oleh kekhawatiran jika perang AS dan Iran yang belum menemukan penyelesaian akan terus menekan pasokan dari sejumlah produsen minyak utama Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait.
Sebab kesepakatan damai yang sebelumnya telah disepakati berakhir pada pekan ini. Namun, belum ada upaya lebih jauh untuk kembali membuka perundingan.
Di tengah kondisi itu, Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara-negara yang mendukung Iran. Membuat suasana konflik di Timur Tengah semakin memanas.
"Kedua pihak masih bertahan pada posisinya masing-masing, tetapi tidak memiliki kemewahan waktu untuk sekadar menunggu, sementara harga minyak mentah terus naik tanpa henti," kata Analis IG, Tony Sycamore.
Untuk diketahui, pada Rabu (19/8) malam Trump kembali mengancam Iran dengan 'perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya'. Ia memperingatkan konsekuensi bagi negara mana pun yang memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran.
Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah juga meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) menghentikan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan. Menunjukkan hubungan yang memburuk antara salah satu produsen minyak utama negara-negara Teluk dengan Iran.
Lalu lintas pengiriman energi melalui Selat Hormuz pada Rabu (19/8) juga belum mengalami peningkatan dari hari-hari sebelumnya dengan sembilan kapal yang melintasi jalur air tersebut. Angka ini jauh di bawah tingkat sebelum perang, mencerminkan melemahnya pasokan minyak global dari Timur Tengah.
(igo/fdl)