Jokowi: Penyaluran Pinjaman Fintech Nasional di 2020 Meningkat 113%

Inkana Putri - detikFinance
Rabu, 11 Nov 2020 17:14 WIB
Presiden Jokowi
Foto: BPMI Setpres
Jakarta -

Perkembangan Financial Technology (Fintech) di Indonesia terus mengalami peningkatan. Presiden RI Joko Widodo menyampaikan layanan Fintech telah berkembang sangat besar, bahkan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional dan memperbesar akses terhadap pembiayaan.

Adapun hal ini terlihat dari kontribusinya terhadap penyaluran pinjaman nasional yang mencapai Rp 128,7 triliun.

"Kontribusi Fintech pada penyaluran pinjaman nasional di tahun 2020 mencapai Rp 128,7 triliun, meningkat 113% secara year on year (yoy). Sampai September 2020, terdapat 89 penyelenggara Fintech yang berkontribusi 9,87 triliun pada transaksi layanan jasa keuangan Indonesia, Rp 15,5 triliun disalurkan penyelenggara Fintech equity crowdfunding berizin. Hal ini merupakan perkembangan yang luar biasa," ujarnya dalam webinar Indonesia Fintech Summit 2020 yang digelar Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Rabu (11/11/2020).

Meskipun demikian, Jokowi mengatakan pengembangan Fintech di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Mengingat indeks inklusi dan literasi keuangan di Indonesia masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di Asia.

Di tahun 2019, indeks inklusi keuangan Indonesia 76%, masih rendah rendah dibanding negara Asia lainnya antara lain Singapore 98%, Malaysia 85%, dan Thailand 82%.

"Tingkat literasi keuangan digital kita juga masih rendah baru sekitar 35,5%. Masih banyak masyarakat yang menggunakan layanan keuangan informal, dan hanya 31,26% masyarakat yang pernah menggunakan layanan digital," paparnya.

Terkait hal ini, Jokowi berharap inovator Fintech dapat meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Para inovator fintech juga harus mengembangkan diri untuk menjalankan fungsi agregator dan inovatif kredit scoring, memberikan layanan equity crowdfunding, dan project financing.

"Oleh karena itu, saya harap para inovator fintech tidak hanya sebagai penyalur pinjaman dan pembayaran online saja, tetapi sebagai penggerak utama literasi digital masyarakat, sebagai pendamping perencana keuangan, serta memperluas UMKM dan akses pemasaran e-commerce," katanya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan layanan Fintech nantinya akan memainkan peranan penting bagi indeks inklusi di Indonesia.

Pada tahun 2019, Google Domestic Domain memprediksi Indonesia adalah pertumbuhan tercepat di lingkup ASEAN. Saat ini, Fintech diperkirakan perannya sekitar US$ 40 miliar dengan pertumbuhan tahunan sekitar 50%, dan di tahun 2025 diperkirakan nilainya lebih dari US$ 100 miliar.

"Ke depan fintech akan terus mempermainkan peran penting, dengan indeks inklusi keuangan sebesar 76% di tahun 2019. Tentunya kita berharap bahwa inklusi keuangan sesuai arahan Bapak Presiden ditargetkan 90% di tahun 2024," ungkapnya.

Lebih lanjut Airlangga mengatakan perkembangan Fintech tentunya perlu didukung dengan literasi keuangan yang baik. Pasalnya, saat ini Fintech merupakan sektor yang paling kompetitif dan telah menjadi icon bagi ekonomi digital Indonesia.

"Potensi Fintech ini dengan sejumlah tantangan tentunya yang utama dengan literasi keuangan, literasi digital didukung dengan ekosistem dan kolaborasi lintas sektoral untuk memaksimalkan program dan inisiatif Pemerintah," katanya.

Ia menambahkan Pemerintah tentunya melihat tantangan Fintech saat ini diharapkan bisa menjawab terhadap potensi pengangguran terbuka sehingga Fintech bisa mendorong kegiatan UMKM atau kewirausahaan.

Pemerintah sendiri telah menetapkan Undang-Undang No 11 Tahun 2020 terkait dengan Cipta Kerja, yang diharapkan bisa melakukan transformasi ekonomi secara nasional.

"Saya berharap upaya akselerasi pemulihan ekonomi nasional terutama di bidang inklusi keuangan dan teknologi digital, dengan kolaborasi lintas sektoral yang efektif, kami berharap ini dapat membangun sekaligus menumbuhkan perekonomian nasional," pungkasnya.

Sebagai informasi dalam acara Indonesia Fintech Summit 2020 turut hadir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, serta berbagai CEO & Founder Perusahaan Fintech di Indonesia.

(ega/hns)