Nggak Cuma Elon Musk, Ini Biang Kerok Harga Bitcoin cs Tumbang

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 20 Mei 2021 10:22 WIB
SALT LAKE CITY, UT - APRIL 26: A pile of Bitcoins are shown here after Software engineer Mike Caldwell minted them in his shop on April 26, 2013 in Sandy, Utah. Bitcoin is an experimental digital currency used over the Internet that is gaining in popularity worldwide. (Photo by George Frey/Getty Images)
Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

Bitcoin dan mata uang kipto lainnya turun tajam. Hal ini menyusul langkah China yang akan menindak mata uang digital.

Sebagaimana diberitakan CNN, Kamis (20/5/2021), bitcoin jatuh ke level US$ 30.202 per koin pada Rabu pagi. Padahal, bitcoin dibuka pada US$ 40.000 menurut data Coindesk.

Bitcoin kemudian sedikit pulih meski masih turun lebih dari 10% yakni sekitar US$ 38.700 per koin saat penutupan pasar saham New York.

Setali tiga uang dengan bitcoin, ethereum anjlok di bawah US$ 2.000 per unit. Padahal, ethereum diperdagangkan di atas US$ 3.000 di hari sebelumnya. Ethereum turun sekitar 22% menjadi sekitar US$ 2.600 pada Rabu sore. Sementara, dogecoin amblas lebih dari 24% nilainya.

Bitcoin mulai turun bulan ini setelah CEO Tesla Elon Musk mengatakan jika dirinya waspada pada dampak lingkungan. Namun, pengumuman terbaru dari pengawas keuangan dan perbankan Tiongkok semakin mengejutkan pasar mata uang kripto.

Mereka menyatakan, lembaga keuangan dan perusahaan pembayaran tidak boleh berpartisipasi dalam transaksi apapun terkait dengan mata uang kripto. Mereka juga tidak boleh menyediakan layanan terkait kripto kepada klien mereka.

"Harga cryptocurrency telah meroket dan anjlok baru-baru ini, dan perdagangan spekulatif telah bangkit kembali. Ini sangat membahayakan keamanan properti orang dan mengganggu tatanan ekonomi dan keuangan normal," bunyi pernyataan dari regulator yang diawasi oleh People's Bank of China dan China Insurance and Banking Commision.

Sikap dingin China terhadap mata uang kripto sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Meskipun negara tersebut tidak sepenuhnya melarangnya.

Regulator pada tahun 2013 menyatakan bahwa bitcoin bukanlah mata uang nyata dan melarang lembaga keuangan dan pembayaran untuk bertransaksi dengannya. Pada saat itu, mereka mengutip risiko bahwa bitcoin dapat digunakan untuk pencucian uang, serta kebutuhan untuk menjaga stabilitas keuangan dan melindungi status yuan sebagai mata uang fiat.

Masyarakat dapat memegang atau memperdagangkan mata uang kripto, tetapi pertukaran utama di Tiongkok daratan telah ditutup. Pihak berwenang pada tahun 2017 juga melarang penawaran koin, cara bagi para pemula teknologi untuk mengumpulkan uang dengan menerbitkan token kripto kepada publik.

Tindakan keras yang tumbuh mungkin juga sebagian untuk meningkatkan inisiatif yuan digital yang didukung negara, yang sedang diupayakan untuk diterapkan oleh pihak berwenang sehingga dapat menjaga aliran uang di bawah pengawasan ketatnya.

(acd/eds)