Deretan Kebijakan China yang Meruntuhkan Keperkasaan Bitcoin

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 22 Mei 2021 08:30 WIB
VANCOUVER, BC - OCTOBER 29: Gabriel Scheare uses the worlds first bitcoin ATM on October 29, 2013 at Waves Coffee House in Vancouver, British Columbia. Scheare said he just felt like being part of history. The ATM, named Robocoin, allows users to buy or sell the digital currency known as bitcoins. Once only used for black market sales on the internet, bitcoins are starting to be accepted at a growing number of businesses. (Photo by David Ryder/Getty Images)
Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

Harga bitcoin masih terus menyusut hingga Jumat sore, jatuh lebih dari 11% setelah China melipatgandakan upaya mencegah risiko spekulatif dan keuangan dengan menindak penambangan dan perdagangan uang kripto itu. Komite Stabilitas dan Pengembangan Keuangan China, yang diketuai oleh Wakil Perdana Menteri Liu He, memilih bitcoin sebagai aset yang perlu diatur lebih lanjut.

Sejak mencapai level tertinggi sepanjang masa US$ 65.000 pada pertengahan April, bitcoin telah jatuh sekitar 45%. Bahkan harganya sudah turun sekitar 28% sepanjang minggu ini.

Pernyataan China yang memperketat larangan bank dan perusahaan pembayaran yang menyediakan layanan terkait kripto jadi upaya negeri tirai bambu membasmi spekulasi dan penipuan dalam mata uang virtual.

Wakil Perdana Menteri Liu He adalah pejabat China paling senior yang secara terbuka memerintahkan tindakan keras terhadap bitcoin. Ini adalah pertama kalinya pemerintah secara eksplisit menargetkan penambangan kripto.

"Sulit untuk membaca dampak nyata dari tindakan potensial oleh China, karena pernyataan ini dibuat tanpa spesifik," kata John Wu, Presiden Ava Labs, sebuah platform sumber terbuka untuk aplikasi keuangan, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (22/5/2021).

"Pernyataan ini memang menunjukkan risiko yang jelas untuk penambangan bitcoin yang sangat bergantung pada China, dan kemauan pemerintahnya." lanjutnya.

Pemerintah juga telah merekomendasikan pertukaran uang kripto yang beroperasi di Hong Kong juga harus dilisensikan oleh regulator pasar dan hanya akan diizinkan untuk memberikan layanan kepada investor profesional.

Sebelumnya pada hari Jumat, saluran CCTV pemerintah China juga memperingatkan terhadap "risiko sistemik" dari perdagangan cryptocurrency dalam komentar di situsnya. Cryptocurrency dianggap sebagai aset yang diatur dengan ringan yang sering digunakan dalam perdagangan pasar gelap, pencucian uang, penyelundupan senjata, perjudian, dan perdagangan narkoba.

"Bitcoin bukan lagi alat investasi untuk menghindari risiko. Sebaliknya, itu instrumen spekulatif," kata CCTV.

Rival cryptocurrency ethereum juga mendapat tekanan, diperdagangkan turun sekitar 15% pada US$ 2.339.

"China telah mencoba begitu sering untuk menangani bitcoin, pertukaran, dan penambangan sejak 2013 sehingga saya tidak berpikir ini seharusnya menjadi kejutan lagi," kata Ruud Feltkamp, kepala eksekutif di bot perdagangan crypto Cryptohopper.

"Saya akan terkejut jika itu akan memiliki efek jangka panjang yang substansial pada bitcoin." ungkapnya.

Kampanye terbaru China melawan kripto sendiri terjadi setelah Departemen Keuangan AS pada hari Kamis menyerukan aturan baru yang akan membutuhkan transfer cryptocurrency besar untuk dilaporkan ke Internal Revenue Service dan Federal Reserve, menandai risiko yang ditimbulkan cryptocurrency terhadap stabilitas keuangan.

(eds/eds)

Tag Terpopuler