Investasi Kripto Nyeremin Banget, Investor Cemen Minggir Dulu

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 25 Mei 2021 12:37 WIB
Bitcoin
Foto: Tim Infografis, Nadia Permatasari
Jakarta -

Cryptocurrency atau mata uang digital kripto semakin hari semakin tenar. Di Indonesia saja instrumen ini sudah menjangkiti begitu banyak orangnya.

Kenaikan nilai yang begitu tinggi membuat orang tergiur untuk ikut masuk membeli Bitcoin dan teman-temannya. Tapi banyak yang tidak sadar bahwa investasi di mata uang kripto begitu menyeramkan.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menilai investasi di kripto sama seperti representasi matematis zero-sum game, artinya sepenuhnya investasi di kripto adalah spekulasi.

"Ini 100% spekulasi bahkan sebenarnya ini zero-sum game, permainan kosong. Artinya kalau saya menang pasti ada yang kalah, kalau saya kalah berarti ada yang menang, jadi 0 hasilnya. Bahkan kalau ada biaya ataupun yang dikenakan untuk itu akan menjadi negatif game," ucapnya saat dihubungi detikcom, Selasa (25/5/2021).

Hans menjelaskan, berbeda dengan pasar saham. Setiap pergerakan saham ada value. Pemegang saham akan mendapatkan nilai dari perkembangan perusahaannya.

"Lalu juga kalau ditanya apakah pasar future derivatif begitu juga, kan sama ada yang menang, ada yang kalah. Nah tapi derivatif itu ada lindung nilai. Misalnya saya produsen saya butuh kontrak derivatif untuk amankan posisi saya, sehingga ada tambahan nilai ekonomi. Kalua cryptocurrency itu nggak ada, itu 100% spekulasi dan zero-sum game, ada yang menang ada yang kalah," terangnya

Dalam kondisi pasar 100% spekulasi dan zero-sum game menurut Hans yang paling diuntungkan adalah mereka yang sudah menguasai pasar tersebut. Sementara yang kalah dipastikan adalah investor ritel apa lagi yang baru.

"Yang rugi ya investor ritel yang baru masuk pasar, yang ilmunya kurang, kurang memahami produk, yang ikut-ikutan teman. Itu yang kalah, duitnya diambil sama yang pinter," tambahnya.

Menurut Hans salah satu contoh penguasa pasar adalah Elon Musk. Dengan sekali cuitan di Twitter bahkan dia bisa melambungkan atau menjatuhkan nilai kripto secara instan.

"Dia kan beli tuh, setelah beli dia nge-tweet boleh beli Tesla pakai Bitcoin. Habis itu naik, dia untung Rp 1,4 triliun. Nah mungkin dia sudah profit taking tapi kan dia nggak mau ngaku, terus dia ngomong eh nggak boleh sekarang karena merusak lingkungan, nah rontok lagi kan. Kemudian dia pindah lagi ke dogecoin," tegasnya.

Menurutnya jika melihat hal itu maka pasar kripto benar-benar spekulasi dan tidak ada keadilan untuk seluruh pelaku pasar. Apa lagi aset yang kita beli dalam bentuk digital.

"Ini menyeramkan dan harus kita bilang ini salah satu penipuan terbesar di abad ini. Jadi sebenarnya kita beli apa si kripto itu, nggak ada yang kita beli, itu kan digital," ucapnya.

Sementara Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, jika melihat secara dasar pengertian investasi, sebenarnya uang kripto memenuhinya. Konsep dasar itu adalah wadah yang bisa meningkatkan nilai kekayaan seseorang.

"Ya memang sebenarnya kripto itu sudah memenuhi kriteria itu. Cuma masalahnya investasi itu secara teori pengertian investasi itu tidak mengikutsertakan yang namanya spekulasi," tegasnya.

Investasi yang baik, lanjut Reza, tidak memiliki unsur spekulasi. Investasi yang baik seharusnya ada underlying asset yang menjadi landasan nilai sebuah instrumen investasi.

"Sekarang kalau dari mata uang kripto sendiri ini kan investasi yang tidak ada underlying asset-nya. Misalnya investasi di surat utang negara ya underlying-nya aset pemerintah dari APBN. Atau di saham underlying-nya ya aset-aset perusahaan yang dinilai sedemikian rupa sehingga menghasilkan nilai sahamnya. Kalau kripto itu kan tidak ada, apa si yang membuat nilai dia naik atau turun, kan nggak ada. Kalau disamakan dengan investasi di valas, itu kan dasarnya ada, kondisi ekonomi di negara tersebut," ucapnya.

Tonton juga Video: Wacana Kemendag Bangun Pasar Aset Kripto Bikin Bingung

[Gambas:Video 20detik]



(das/dna)