Suram! Harga Bitcoin Nyaris Jeblok ke Bawah Rp 400 Juta

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 23 Jun 2021 09:56 WIB
A bitcoin (virtual currency) coin placed on Dollar banknotes, next to computer keyboard, is seen in this illustration picture, November 6, 2017. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: Reuters
Jakarta -

Harga Bitcoin kembali merosot pada Selasa dan turun di bawah US$ 30.000, setara Rp Rp 434.070.000 (kurs Rp 14.469/US$). Itu terjadi untuk pertama kalinya sejak akhir Januari karena China meningkatkan tindakan kerasnya terhadap uang kripto (cryptocurrency).

China lebih lanjut membatasi aktivitas penambangan dan memberi tahu kepada platform pembayaran utama dan pemberi pinjaman bahwa perdagangan kripto tidak akan ditoleransi. Demikian dilansir CNN, Rabu (22/6/2021).

Akibatnya, Bitcoin ambles 12% selama 24 jam terakhir. Aset koin digital itu telah kehilangan sekitar setengah nilainya sejak mencapai level tertinggi sepanjang masa pada bulan April. Kripto lainnya juga mengalami aksi jual besar-besaran, di mana Ethereum turun sekitar 14%, sementara Dogecoin turun 26%, menghapus semua keuntungannya sejak April.

Bitcoin cs mengalami beberapa bulan yang sulit karena beberapa alasan, termasuk kekhawatiran tentang dampak lingkungan dari penambangan koin dan meningkatnya pengawasan pemerintah.

Koin digital juga terus mendapat banyak perhatian dari China. Selama berbulan-bulan, negara tersebut telah mengisyaratkan dorongan yang lebih agresif untuk membatasi penggunaan mata uang tersebut.

People's Bank of China pada hari Senin mengatakan telah memanggil Alipay, platform pembayaran online yang dijalankan oleh Jack Ma, Ant Group, bersama dengan lima pemberi pinjaman besar lainnya, yaitu Industrial and Commercial Bank, Agricultural Bank of China,China Construction Bank, Postal Savings Bank of China dan Industrial Bank.

Mereka diminta untuk menyelidiki dan mengidentifikasi secara komprehensif terhadap transaksi dan pedagang kripto sehingga mereka dapat memotong setiap perdagangan kripto.

"Perdagangan mata uang kripto dan aktivitas spekulatif ... menimbulkan risiko transfer aset dan pencucian uang lintas batas ilegal," kata bank sentral.

Keenam perusahaan mengatakan bahwa tidak ada institusi atau individu yang diizinkan menggunakan platform mereka untuk aktivitas terkait kripto apa pun. Selain pernyataan itu, Alipay juga berjanji untuk meningkatkan penyelidikan terhadap transaksi kripto di platformnya.

Pengumuman tersebut bukanlah kebijakan baru bagi Beijing, tetapi hal itu memperkuat seberapa jauh negara tersebut ingin membatasi penggunaan Bitcoin dan koin digital lainnya.

Selama akhir pekan, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa provinsi Sichuan di Tiongkok barat daya memerintahkan penghentian semua operasi penambangan kripto dan memutus pasokan listrik ke banyak fasilitas penambangan.

Provinsi tersebut adalah pusat utama untuk penambangan, proses menggunakan komputer canggih untuk menjalankan dan menyelesaikan algoritme yang menghasilkan koin kripto baru, dan memverifikasi transaksi.

Tindakan keras yang berkembang juga sebagian untuk meningkatkan inisiatif yuan digital yang didukung negara China, yang ingin diterapkan oleh pihak berwenang sehingga mereka dapat menjaga aliran uang tetap terkendali.

(toy/eds)