Mendag Era SBY Sebut Bitcoin Lebih Unggul dari Kartu Kredit, Apa Alasannya?

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 13:58 WIB
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan saat mengikuti konvensi partai demokrat di wisma kodel, jakarta (28/8/2013). File/detikFoto.
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

Pandemi COVID-19 mengubah kebiasaan masyarakat. Selain itu perkembangan teknologi juga semakin berkembang pesat. Termasuk teknologi blockchain yang saat ini sangat tenar di kalangan pengguna cryptocurrency.

Mantan Menteri Perdagangan sekaligus Chairman Ancora Group Gita Wirjawan mengungkapkan nantinya nilai transaksi uang kripto ini berpotensi untuk mengungguli transaksi kartu kredit. Karena tren uang kripto yang sangat pesat di dunia.

"Saat ini aplikasi blockchain sudah progresif sekali, sehingga transaksi kripto akan melebihi kartu kredit. Hanya masalah waktu saja," kata dalam acara Indonesia Knowledge Forum X 2020 'Towards BUSINESS REBOUND: Accelerate Economic Recovery through Knowledge', Kamis (7/10/2021).

Gita menjelaskan dalam beberapa tahun terakhir memang pertumbuhan transaksi uang kripto tumbuh signifikan. Dia memaparkan jika pertumbuhan blockchain ini mencapai 120% per tahun dalam 15-16 tahun terakhir.

Menurut dia, blockchain ini adalah keniscayaan yang akan dihadapi oleh manusia. Bahkan disebut bisa mengalahkan internat yang mencapai pertumbuhan puncak 60% pada era 1990-2000. "Bahkan penggunanya bisa lebih dari 1 miliar pada 2025 nanti," jelas dia.

Gita mengungkapkan saat ini pembayaran digital memang berpotensi besar di perekonomian global dan nasional. Tapi di China digital payment ini nilainya 2 kali lebih besar dari produk domestik bruto (PDB) China yang sebesar US$ 11 triliun sampai US$ 12 triliun.

"Transaksi payment digital China mencapai US$ 24 triliun, ini fantastis kalau dibandingkan dengan Indonesia yang kurang lebih 10% dari PDB," jelas dia.

Menurut dia ini ada prospek yang luar biasa besar jika dikembangkan dengan baik. Apalagi di Indonesia banyak entrepreneurship mulai dari skala mikro, kecil menengah dan besar.

(fdl/fdl)