3 Tanggapan Pedagang Kripto soal Fatwa Haram Bitcoin cs

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 28 Okt 2021 20:00 WIB
Ilustrasi Bitcoin
3 Tanggapan Pedagang Kripto soal Fatwa Haram Bitcoin cs
Jakarta -

PWNU Jatim mengeluarkan fatwa haram terhadap cryptocurrency (uang kripto), didasarkan pada hasil kajian lembaga Bahtsul Masail. Mereka menilai mata uang kripto tidak bisa dijadikan instrumen investasi. Sebab di dalamnya diketahui ada unsur spekulasi yang bisa merugikan orang lain.

Pedagang uang kripto pun merespons fatwa haram dari PWNU. Apa katanya?

1. Regulasi Mengizinkan Perdagangan Kripto

Menyikapi itu, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh Kurniawan Harmanda mengatakan aturan hukum yang berlaku saat ini masih mengizinkan perdagangan uang kripto.

"Jadi kalau kita lihat sendiri dari perdagangan berjangka itu kan sudah ada ininya (aturannya) ya, dan sudah ada fatwanya dan itu kan diperbolehkan. Sedangkan kripto sendiri kan masuk ke dalam perdagangan gitu lho, perdagangan fisik. Jadi kalau kemudian kita melihat kripto sebagai perdagangan ya pada dasarnya hanya transaksi jual-beli ya," katanya kepada detikcom, Kamis (28/10/2021).

2. Harus Dilihat Secara Objektif

Menurutnya perdagangan uang kripto harus dilihat secara objektif, jangan hanya melihat nilainya yang fluktuatif, yaitu kenaikan dan penurunan harganya begitu cepat. Sebab, menurutnya komoditas lain pun memiliki kecenderungan yang sama, yaitu fluktuatif.

"Itu kan juga saya pikir juga komoditas yang lain juga sama," sebut Teguh.

Jika ditelisik dari sifat mudharatnya (kerugiannya) saja, menurutnya semua industri juga ada mudharatnya. Tapi di sisi lain harus dilihat manfaatnya.

"Jadi kalau kita lihat dari manfaatnya banyak juga orang yang mendapatkan manfaat lebih dari industri (uang kripto) ini," ujarnya.

3. Investor Tak Terpengaruh

Menurut Teguh perdagangan kripto sejauh ini berjalan normal. Para pemain uang kripto masih berpegang kepada aturan perdagangan berjangka yang berlaku saat ini, dimana perdagangan uang kripto yang termasuk di dalamnya masih diperbolehkan di Indonesia.

"Kalau dari sisi perdagangan sih kita melihat stabil karena kalau kita tahu dari si customer ini mereka merasa bahwa itu adalah perdagangan fisik dan dari aturan hukum saja itu hukum Indonesia itu diperbolehkan," katanya.

Lanjut dia, jumlah investor uang kripto di Indonesia justru masih dalam tren tumbuh, alias jumlah orang-orang yang mengadopsi koin digital di Indonesia masih terus bertambah.

"Justru memang adopsi terhadap kripto di Indonesia itu makin meningkat," tuturnya.

(toy/fdl)