Harga Bitcoin Rontok Digoncang Omicron, Kapan Mantul Lagi?

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 08 Des 2021 06:45 WIB
Bitcoin
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Harga kripto terbesar di dunia, bitcoin tengah mengalami penurunan. Ada beberapa penyebab, salah satunya pengaruh varian baru COVID-19 bernama Omicron. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh Kurniawan Harmanda.

"Jika kita melihat secara makro, pengaruh dari varian virus baru seperti Omicron atau bahkan sebelumnya ada Delta dan Delta plus mempengaruhi instrumen investasi seperti saham dan kripto," katanya kepada detikcom, Selasa (7/12/2021).

Pengaruh varian Omicron ini juga cukup membuat investor panik hingga akhirnya ramai-ramai menjual aset kriptonya.

"Dari panic selling itulah terjadi yang namanya koreksi termasuk di aset kripto utamanya Bitcoin," ungkapnya.

Selain itu, harga bitcoin anjlok juga disebabkan oleh Bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) yang mempercepat kebijakan normalisasi moneternya. Harga bitcoin sempat ambrol lebih dari 9% ke kisaran US$ 51.000/koin yang merupakan level terendah dalam dua bulan terakhir

Ia meyakini penurunan bitcoin saat ini masih dalam batas wajar, apalagi pernah terjadi dalam beberapa tahun belakangan. Teguh memprediksi bitcoin akan melejit kembali sekitar April 2022.

"Tapi pergerakan market ini masih dalam batas wajar dan aset kripto sendiri apalagi yang kapitalisasinya besar juga memiliki use case yang luas, serta masih menjanjikan buat perencanaan jangka panjang. Kalau kita lihat berdasarkan histori, mungkin untuk kembali ke bull run sekitar April 2022," tuturnya.

Oleh karena itu, aset kripto disebut masih menjanjikan untuk perencanaan keuangan jangka panjang. Apa lagi akan hadir juga Central Bank Digital Currency (CBDC) yang menjadi isu bank sentral di dunia.

"Saya percaya bahwa aset kripto masih akan berkembang di masa depan, dapat dilihat juga beberapa institusi pasti akan mengadopsi blockchain termasuk perbankan di masa depan, terbukti dengan adanya CBDC," tutupnya.

Per 7 Desember 2021, harga bitcoin mengalami kenaikan 6,03% menjadi Rp 739 juta. Volume perdagangan kripto menjadi sebanyak Rp 36,8 miliar dalam 24 jam terakhir. Demikian dikutip dari Coin Base.

Meski naik, dalam sepekan terakhir bitcoin mengalami penurunan sebanyak 10,85%. Lalu dibandingkan nilai November lalu, harga bitcoin mengalami penurunan drastis. Di mana pada 9 November bitcoin berada di angka Rp 962 juta.

Ethereum hari ini juga mengalami kenaikan sebanyak 8,88% menjadi Rp 63 juta dengan volume perdagangan sebanyak Rp 27,3 miliar dalam 24 jam terakhir. Nilai hari ini juga turun dibandingkan November lalu yang tercatat tercatat Rp 69 juta.

Kripto Binance juga hari ini naik 5,42% menjadi Rp 8,4 juta, Dogecoin naik 9,03% menjadi Rp 2.598 dan koin Shiba Inu naik 11,30%.

(eds/eds)