Nasib Kripto di RI: Harganya Rontok Habis-habisan, Bursanya Masih Angan-angan

ADVERTISEMENT

Nasib Kripto di RI: Harganya Rontok Habis-habisan, Bursanya Masih Angan-angan

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 05 Jan 2023 08:00 WIB
AS Sita $3.6 Miliar Mata Uang Kripto Terkait Peretasan
Foto: DW (News)
Jakarta -

Harga kripto di tahun 2022 mengalami penurunan yang drastis karena berbagai faktor. Penurunan harga kripto ini terjadi baik di dalam negeri dan secara global.

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mengatakan harga kripto belum pada titik paling bawah, jadi diprediksi pada tahun 2023 ini masih akan mengalami koreksi. Meskipun penurunannya tidak sedrastis pada tahun 2022.

"Kami menduga di 2023 ini memang aset kripto mengalami masa winter yang luar biasa. Tampaknya winter ini nggak selesai-selesai. Ketika sudah sampai winter, apakah sudah sampai titik paling bawah? Kalau sudah di titik sampai bawah nggak bisa turun lagi. Ini nampaknya masih mendekati titik paling bawah," kata Plt Kepala Bappebti, Didid Noordiatmoko, dalam Outlook Bappebti 2023, di Kantor Bappebti, Rabu (4/1/2023).

Istilah winter yang dimaksud itu adalah penurunan drastis pada suatu aset atau nilai. Dalam hal kripto, harga di pasar secara drastis dan berkepanjangan.

Didid juga memprediksi saat harga kripto tidak mengalami penurunan yang signifikan, tetapi untuk rebound kembali masih sulit. Walaupun berbagi survei menyebut aset kripto masih menjadi top three investasi yang dipilih.

"Artinya 2023 tampaknya walaupun tidak semakin memburuk, tetapi untuk rebound, ini juga masih belum sepenuhnya. Kalau kita lihat survei-survei ini tadi, kalau tadi Celios kripto adalah 3 besar orang berinvestasi tapi kecenderungan popularitasnya menurun," jelasnya.

Meski demikian, Didid masih optimis popularitas aset kripto di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan survei Global Index sebanyak 16,4% pengguna internet di Indonesia memiliki aset kripto. Kemudian menurut We Are Social pengguna internet sebanyak 18,4% memiliki aset kripto.

"Nah ini menjadikan hal ini potensi ke depannya pengelolaan aset kripto yang lebih baik lagi," tutupnya.

Bursa Kripto Gagal di 2022, Mau Dibangun 2023

Di sisi lain, bursa kripto yang seharusnya menjadi wadah untuk mengawasi perdagangan aset tersebut belum juga terbentuk. Janji dari Bappebti sendiri pembentukannya rampung pada 2022, tetapi gagal. Kegagalan itu diakui oleh Didid.

"Bursa kripto sampai catatan ini yang kami buat, belum juga berhasil dibangun. Ini catatan besar buat kami. Jadi saya harus akui ini salah satu ketidakberhasilan Bappebti membangun bursa, kliring, dan pengelola kustodian aset kripto," terangnya.

Didid mengatakan bahwa belum terbentuknya bursa kripto karena pihaknya masih ingin memastikan ekosistem aset kripto berjalan baik. Makanya memang diperlukan percontohan bursa kripto lainnya.

"Kami kesulitan mencari benchmarking. Mana negara yang sudah punya bursa yang baik. Kami kesulitan mencari yang kira-kira sesuai dengan Indonesia sehingga ini membuat keterlambatan," jelasnya.

Gagalnya bursa kripto yang mau dibangun juga disebut menyulitkan kinerja Bappebti jika ada masalah baik di pedagang fisik maupun pelanggan.

"Ketika ada masalah di dua pihak, itu menjadi tanggung jawab Bappebti sehingga risiko Bappebti tidak bisa dibagi dengan yang lain. Kalau bursa, kustodian, kliring sudah dibangun, kami bisa membagi risiko itu," tuturnya.

Didid mengatakan pihaknya akan berupaya untuk membangun bursa kripto pada tahun 2023 ini.

"Ketika ada permasalahan, perdagangan kami bisa pantau. Kemarin FTX pemiliknya ada di luar sana. Kami berharap bursa kripto ini akan terbentuk 2023," tutupnya.

(ada/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT