Foto Bisnis

Bisnis Udang Vaname, Risiko Tinggi tapi Kantong Tebal

Imam Suripto - detikFinance
Jumat, 18 Des 2020 21:15 WIB

Brebes - Budi daya udang Vanami belum banyak digeluti kalangan petambak. Meski berpotensi peroleh untung tinggi, budi daya udang ini juga punya risiko gagal cukup tinggi

Budi daya udang Panama belum banyak digeluti kalangan petambak. Meski berpotensi peroleh untung tinggi, budi daya udang ini juga punya risiko gagal cukup tinggi

Budi daya udang vanami atau panaeous vanamee yang juga dikenal dengan sebutan udang Panama merupakan usaha yang belum banyak digeluti kalangan petambak. Di Brebes, Jawa Tengah misalnya, meski potensi mendapatkan keuntungan tinggi, namun banyak petambak enggan terjun karena memiliki resiko gagal tinggi.

Budi daya udang Panama belum banyak digeluti kalangan petambak. Meski berpotensi peroleh untung tinggi, budi daya udang ini juga punya risiko gagal cukup tinggi

Pascakejayaan bisnis udang windu (panaeous monodon) pada periode 1986-1996 usaha tambak udang di Brebes seakan tenggelam. Beberapa tahun kemudian, pada awal 2000, petambak mulai dikenalkan dengan budi daya udang vaname. Budi daya udang windu maupun vaname, sama sama memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Ini jauh berbeda dengan budidaya ikan bandeng atau lainya, dimana petambak hanya tabur benih, memberi pakan dan tinggal menunggu panen.

Budi daya udang Panama belum banyak digeluti kalangan petambak. Meski berpotensi peroleh untung tinggi, budi daya udang ini juga punya risiko gagal cukup tinggi

Untuk menekuni usaha ini pun petambak dituntut untuk teliti. Selain harus bisa memilih bibit yang bagus, petambak juga harus memantau kadar keasaman air (ph) agar udang tetap tumbuh sehat. Biaya yang dibutuhkan juga cukup tinggi untuk menunjang keberlangsungan hidup udang. Biaya tinggi ini dipakai untuk penyediaan listrik hingga puluhan ribuan watt sebagai penggerak kincir air dan melapisi area tambak dengan plastik khusus agar terhindar dari gulma. Sekali salah dalam mengelola budidaya ini, maka resiko kematian udang akan tinggi. Kerumitan inilah yang membuat sebagian petambak di Brebes enggan menekuni budidaya udang vaname.

Budi daya udang Panama belum banyak digeluti kalangan petambak. Meski berpotensi peroleh untung tinggi, budi daya udang ini juga punya risiko gagal cukup tinggi

Namun, jika dijalankan secara benar dan teliti maka hasil yang diperoleh sangatlah mengiurkan. Kerumitan proses tidak akan mengkhianati hasil. Begitulah istilah yang dibuktikan para petani tambak udang vaname. Seperti diungkapkan Fauzan Rasyid (43) petani tambak udang vaname di Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Brebes. Jelang penghujung tahun 2020 di pertengahan Desember ini, ia mengaku bersyukur bisa menikmati panen melimpah. Menurut dia, harga udang cenderung stabil sehingga lebih menjanjikan.

Budi daya udang Panama belum banyak digeluti kalangan petambak. Meski berpotensi peroleh untung tinggi, budi daya udang ini juga punya risiko gagal cukup tinggi

Saat awal pandemi, lanjut Fauzan, harga jual udang diakui sempat anjlok. Sebab, harga untuk ukuran size 30 semula Rp 99 ribu per kilo anjlok menjadi Rp 70-80 ribu per kilogram. Namun sekarang, harga jual kembali stabil di angka Rp 87 ribu per kg. Fauzan mengaku telah menebar benur (bibit udang) sebanyak 1,5 juta ekor dalam lahan seluas 1,4 hektar. Lahan seluas 1,4 itu dibagi menjadi 6 petak. Adapun soal modal, dalam satu siklus menghabiskan modal Rp.2,4 milyar. Jika hasil yang diperoleh bagus, maka hasil yang didapat setelah panen diperkirakan mencapai Rp 3,4 miliar.

Bisnis Udang Vaname, Risiko Tinggi tapi Kantong Tebal
Bisnis Udang Vaname, Risiko Tinggi tapi Kantong Tebal
Bisnis Udang Vaname, Risiko Tinggi tapi Kantong Tebal
Bisnis Udang Vaname, Risiko Tinggi tapi Kantong Tebal
Bisnis Udang Vaname, Risiko Tinggi tapi Kantong Tebal