Selain tidak ingin Indonesia kembali jadi konsumen di industri otomotif, para peneliti ini juga ingin ada kendaraan yang ramah lingkungan diproduksi dalam negeri.
Dirjen Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Rida Mulyana, mendukung adanya riset yang dilakukan oleh para peneliti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah masih akan menunggu hasil riset para peneliti ini sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Menurutnya, negara lain juga belum ada yang sampai memproduksi mobil listrik secara massal.
"Ya di Amerika (Serikat/AS) saja masih dikembangkan kok, apalagi di sini, tapi kemungkinan itu diterapkan kan kita terbuka prinsipnya, daripada kita jadi pasar makanya kita mendukung diadakannya riset dan harus banyak belajar," katanya.
Pekan lalu, para peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Surabaya (ITS) sudah berkumpul di kantor Menko Perekonomian untuk membahas mobil listrik. Hadir juga perwakilan dari Kementerian Riset dan Teknologi.
Para peneliti ini meminta dukungan pemerintah dalam pengembangan mobil listrik. Sebab, Indonesia dinilai sudah tertinggal dalam pengembangan mobil ramah lingkungan ini.
Dikhawatirkan,Β Indonesia akan kembali menjadi konsumen yang mengimpor mobil listrik jika tidak ada pengembangan dari sekarang.
Selain itu, para peneliti juga memprediksi mobil listrik akan menjadi tren dunia di 2020. Sayangnya, saat ini banyak peneliti mobil listrik yang 'kabur' ke luar negeri karena takut dikriminalisasi. (ang/dnl)











































