Follow detikFinance
Sabtu 01 Apr 2017, 17:42 WIB

Nasib Industri Kapal RI, Mau Maju Malah Tersandung Kasus Korupsi

Michael Agustinus - detikFinance
Nasib Industri Kapal RI, Mau Maju Malah Tersandung Kasus Korupsi Foto: Pool
Jakarta - Malang betul nasib PT PAL Indonesia (Persero). Setelah sempat merugi selama bertahun-tahun, kini PAL berupaya bangkit dan berlari. BUMN perkapalan itu sudah mulai ekspor kapal perang ke Filipina.

Harusnya April ini menjadi bulan yang baik bagi PAL. Setelah sukses menyelesaikan kapal perang Strategic Sealift Vessel (SSV) pertama dan mengirimnya ke Filipina pada akhir September 2016 lalu, satu unit SSV lagi akan diterima militer Filipina bulan ini.

Baca juga: Dua Kapal Perang Buatan Surabaya Dijual Rp 1,1 Triliun ke Filipina

Di tengah upaya untuk berlari cepat itu, Direktur Utama PAL, M Firmansyah Arifin, ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan suap proyek 2 kapal pesanan Filipina.

Firmansyah tak sendiri, KPK juga menetapkan Direktur Keuangan dan Teknologi PAL Saiful Anwar dan GM Treasury PAL Arief Cahyana sebagai tersangka.

Baca juga: Sandang Status Tersangka, Dirut PT PAL Dipecat

"Saya terus terang sangat kaget. PT PAL dari mereka sakit sampai sehat, saya mengikuti betul. Saya kenal dirutnya, terus terang saya tidak melihat tanda-tanda beliau sebagai penikmat jabatan," kata Pengamat BUMN, Said Didu, saat dihubungi detikFinance, Sabtu (1/4/2017).

Dugaan kasus suap yang menimpa Firmansyah diyakini bakal membuat citra PAL tercoreng. Butuh waktu untuk membuat nama PAL kembali bersih lagi. Said Didu menyarankan pemerintah segera bersih-bersih, harus diangkat orang-orang baru yang berintegritas untuk memimpin PAL.

"Dipastikan ini mempengaruhi nama baik perusahaan. Sekarang waktunya untuk mengganti dengan orang-orang yang bersih," tegasnya.

Untungnya PAL bukan perusahaan yang bergantung pada kepercayaan publik. Menurut Said Didu, industri perkapalan lebih bergantung pada kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi.

Selama PAL bisa terus meningkatkan kualitas SDM dan teknologinya, order pembuatan kapal dari pembeli di luar negeri akan terus mengalir.

"Industri perkapalan bukan bergantung pada kepercayaan publik. Tapi berbasis teknologi dan kompetensi SDM," tukasnya.

Baca juga; Dirut Jadi Tersangka, PT PAL Tetap Ekspor Kapal Perang ke Filipina

PAL masih bisa terus berlari, tapi harus hati-hati agar tak tersandung lagi. Said Didu mengingatkan, PAL harus waspada jika ada negara yang melakukan pengadaan kapal lewat agen. Permainan biasa terjadi lewat perantaraan agen.

Bukan hanya PAL saja yang tersangkut kasus gara-gara berbisnis lewat agen. Said Didu menuturkan, mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar juga jadi tersangka akibat praktek serupa dalam pengadaan mesin pesawat. Jangan sampai PAL atau BUMN lain jatuh ke lubang yang sama.

"Kalau pengadaan lewat agen harus waspada lebih tinggi, setiap pengadaan lewat agen harus waspada. Kalau ada negara-negara bersih melakukan pengadaan lewat agen, harus dicurigai," tandasnya. (mca/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed