Follow detikFinance
Rabu 05 Apr 2017, 21:20 WIB

Perjuangan Eksportir Telur Ikan Terbang Sulsel Tembus Pasar Asia

Danang Sugianto - detikFinance
Perjuangan Eksportir Telur Ikan Terbang Sulsel Tembus Pasar Asia Foto: Danang Sugianto
Makassar - Mencari telur ikan terbang di laut lepas merupakan mata pencaharian utama bagi nelayan di Desa Boddia, Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tak tanggung-tanggung potensi hasil telur ikan terbang dalam satu musim di lokasi ini mencapai 1.000 ton.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Telur Ikan Terbang (APTIT), Parawansyah Dg. Lapang, hanya ada dua wilayah yang menghasilkan telur ikan terbang yakni Indonesia dan Peru.

"Tidak ada lagi perairan yang menghasilkan telur ikan terbang sebanyak Indonesia dan Peru. Di Korea ada tapi tidak banyak," tuturnya di Takalar, Sulawesi Selatan, Rabu (5/4/2017).

Pasar dari industri telur ikan terbang ini juga terbilang besar. Negara-negara di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan China adalah negara yang menjadi pasar ekspor telur ikan terbang Indonesia.

Baca juga: Ekspor Telur Ikan Terbang, Pria Ini Kantongi Omzet Rp 160 Miliar

Masalahnya, investor dari negara-negara tujuan ekspor itu juga membuka pabrik di Indonesia. Alhasil, mereka juga menjadi eksportir ke negaranya masing-masing.

Sedangkan, eksportir nasional yang ada di Desa Boddia hanya perusahaan milik Lapang yakni PT Boddia Jaya. Namun sayang perusahaannya itu memiliki keterbatasan dana untuk menampung seluruh hasil telur ikan dari 700 kapal yang ada di wilayahnya.

Lapang mengaku memiliki dana sekitar Rp 100 miliar. Namun dana tersebut hanya mampu menyerap 60% dari total hasil telur ikan terbang yang tahun lalu yang mencapai 700 ton.

Sementara bagi nelayan yang telur ikan terbangnya tak terserap terpaksa menjual ke perusahaan asing. Nah, di sinilah perusahaan asing menentukan harga beli yang lebih murah.

"Kita beli itu rata-rata Rp 300 ribu per kg, paling tinggi Rp 410 ribu per kg. Kalau kita sudah tidak bisa serap, mereka eksportir asing yang menyerap, harganya lebih rendah dari kami. Jadi eksportir asing itu yang memberikan informasi ke negaranya untuk menahan beli," imbuh Lapang.

Dengan memperoleh harga yang murah, maka para eksportir telur ikan terbang asing di Indonesia bisa menentukan harga jual di pasar internasional.

Apalagi saat ini PT Boddia Jaya hanya bisa masuk ke pasar Asia. Untuk pasar Eropa tidak bisa ditembus lantaran produknya hanya mendapatkan grade B .

"Jadi yang bisa masuk ke pasar Eropa ya perusahaan dari Korea, Jepang dan negara lainnya. Padahal produknya dari kita juga," imbuh Lapang.

Lapang yakin, sebenarnya Indonesia bisa mendominasi pasar telur ikan terbang dunia dan bisa mengatur harga karena memiliki hasil tangkap yang paling besar. Namun itu bisa tercapai jika pihaknya mempunyai tambahan dana untuk menampung seluruh hasil tangkapan nelayan di Indonesia.

Menurut perhitungannya, pihaknya bisa menampung seluruh hasil tangkapan nelayan jika memiliki dana sekitar Rp 300 miliar. Sementara saat ini Boddia Jaya memiliki dana hanya Rp 100 miliar, itu pun hasil pengembangan dana pinjaman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank dua tahun lalu sebesar Rp 75 miliar.

"Nelayan minta harga belinya tidak fluktuatif di angka Rp 300 ribu per kg. Jika segitu saya pikir kita butuh Rp 300 miliar. Makanya kita butuh pembiayaan lagi. Kalau punya segitu saya yakin bisa mengendalikan harga," pungkas Lapang. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed