Follow detikFinance
Selasa, 06 Mar 2018 19:24 WIB

Produsen Biodiesel Tahun Ini Bakal Dapat Insentif Rp 9 T

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) memperkirakan besaran insentif yang diberikan kepada produsen biofuel tahun ini sebesar Rp 9 triliun. Produsen biofuel mendapatkan insentif dari selisih harga indeks pasar (HIP) biodiesel dan biosolar yang diperkirakan sebesar Rp 3.000 per liter.

Dengan perkiraan produksi biodiesel 3 juta kilo liter (KL) tahun ini dikalikan dengan perkiraan insentif Rp 3.000 per liter, maka diperkirakan besaran insentif yang digelontorkan tahun ini mencapai Rp 9 triliun.

"2018 optimistis kisaran nggak lebih dari Rp 3.000 per liternya. Kalau Rp 3.000 dikalikan 3 juta KL, kita menggunakan Rp 9 triliun," ujar Direktur Penyaluran Dana BPDPKS Edi Wibowo di kantornya Graha Mandiri, Jakarta Pusat, Selasa (6/3/2018).


BPDPKS tahun ini menargetkan mampu menghimpun dana pungutan sawit sebesar Rp 10,9 triliun di tahun ini. Angka tersebut lebih rendah dari realisasi tahun 2017 Rp 14,2 triliun.

Diperkirakan dana pungutan yang dikantongi mencapai Rp 13 triliun, karena target tersebut disetujui di tahun 2017 lalu di DPR. Di dua bulan berjalan, Januari hingga Februari 2018, BPDPKS sudah mengantongi pungutan sawit sebesar Rp 2,1 triliun.

BPDPKS juga membantah jika insentif biodiesel disamakan dengan subsidi. Pasalnya, insentif diberikan dari pungutan ekspor sawit swasta yang dananya dikembangkan untuk pengembangan industri kelapa sawit dalam negeri.


Dengan adanya skema ini, pemerintah tidak perlu mengeluarkan APBN Rp 21 triliun dari 2015-2017 untuk mewajibkan penggunaan bahan bakar nabati (BBN).

Saat ini, ada 19 perusahaan produsen biodiesel yang menerima insentif ini. Insentif tersebut diberikan kepada perusahaan mampu memproduksi biodiesel yang besarannya tergantung pada jumlah produksi biodiesel yang disalurkan.

"Sebagai informasi terkait produsen biodiesel sudah ada sejak 2006 dengan kapasitas yang besar, sehingga kalau ini jalan terus dapatnya besar ini harus dipahami kalau produsen naik juga atau tambah produksi di atas rata-rata kapasitas tadi," tutup Edi.

(ara/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed