Follow detikFinance
Selasa, 22 Mei 2018 20:45 WIB

Industri Farmasi Paling Tertekan Imbas Penguatan Dolar AS

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menyebut industri farmasi paling terpukul akibat nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp 14.200. Pasalnya industri tersebut sebagian bahan bakunya impor menggunakan dolar AS, sementara dijualnya dengan rupiah di pasar dalam negeri.

"Ada banyak sektor (terdampak penguatan dolar AS) termasuk farmasi. Industri pharmaceutical menjadi persoalan karena dia sebagian bahan baku impor jualnya rupiah," kata Airlangga usai berbuka puasa di rumah dinasnya, Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Airlangga menjelaskan, industri farmasi masih cukup bergantung bahan baku impor dipengaruhi sejumlah hal.

"Ya tentu ada kaitannya dengan intellectual property right (hak kekayaan intelektual), kemudian kalau kita bicara dengan bio chemical ada urusan dengan sampel, bagaimana sampel itu bisa diekspor impornya lebih mudah," lanjutnya.



Pemerintah pun berupaya untuk meningkatkan bahan baku lokal untuk industri farmasi agar tidak terlalu bergantung impor. Dengan demikian ketika dolar AS naik, dia tidak terlalu terdampak.

"Oleh karena itu Kementerian Perindustrian sedang berbicara untuk lokal konten. Jadi semakin banyak konten lokal itu akan sangat membantu daya saing industri," ujarnya.

Industri farmasi pun disebut Airlangga hanya satu dari banyak sektor industri yang terdampak penguatan dolar AS.

"Dan kebanyakan kan sebagian besar bahan baku penolongnya dari dalam negeri. Yang paling persoalan itu adalah industri yang bahan bakunya impor, penjualannya domestik. Nah itu bahan bakunya dolar, jualnya rupiah," tambahnya.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed