Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 17 Agu 2018 11:52 WIB

Kereta Made in Madiun Dipesan Filipina hingga Bangladesh

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - PT INKA (Persero) sebagai produsen kereta api Indonesia mendapatkan kontrak pengadaan kereta dari Filipina hingga Bangladesh. Direktur Utama INKA Budi Noviantoro menjelaskan kereta buatan Madiun yang dipesan banyak negara.

Budi mengatakan, INKA sudah menjalin kontrak pengadaan kereta dengan Filipina. Filipina memesan empat unit kereta rel diesel elektrik (KRDE), tiga lokomotif diesel, dan 15 kereta penumpang.

"Filipina itu 4 KRDE, kereta diesel listrik. Itu 4 car 4 rangkaian. Kemudian pesan 3 lokomotif diesel hydraulic, sama 15 kereta penumpang. Itu Filipina," tutur Budi di markas detikcom, Jakarta Selatan, seperti ditulis Jumat (17/8/2018).


Pengiriman pertama ke Filipina diperkirakan Juni tahun depan atau paling lambat akhir tahun depan. Pengiriman tersebut paling sedikit satu unit KRDE.

"Filipina ada satu yang diminta mereka satu KRDE bulan Juni lah 2019, karena bu Menteri ikut tanda tangan waktu itu dan menjanjikan satu harus lebih cepat ya. Walaupun nanti akhir 2019 ya nggak apa-apa," ujar Budi.

Kemudian kereta pesanan Bangladesh sedang dibuat dan dilakukan pengiriman pada Oktober 2018 mendatang. INKA sebelumnya juga sudah melayani pesanan kereta dari Bangladesh.

"Bangladesh sedang dibangun, lagi dibuat, nanti Oktober itu akan kirim 50. Bukan perdana ini karena ekspor sudah. 50 gerbong kira-kira akhir Oktober lah kita akan kirim ke sana," kata Budi.


Selanjutnya, perusahaan pelat merah ini juga sedang menjajaki kerja sama dengan Thailand dan Srilanka. Senegal hingga Kamerun juga tertarik memesan kereta INKA.

"Senegal, Kamerun, juga Kostarika, juga kemarin Dubes Peru datang ke INKA, dan juga Meksiko, Panama udah datang ke INKA loh. Nah tinggal saya kapan mau ke sana," tutur Budi.

Suriah dan Irak juga berminat memesan kereta buatan INKA. Negara tersebut membutuhkan sarana kereta api untuk membangun kembali infrastrukturnya.

"Suriah butuh nanti kan peluangnya besar. Irak juga sama. Jadi ini potensi besar juga. Ini sesama negara muslim prefer itu salah satunya," kata Budi. (ara/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed