Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Sep 2018 16:46 WIB

Mendag Dengar Keluhan Perajin Tempe soal Dampak Dolar AS 'Ngamuk'

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sore ini mengunjungi Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Jakarta Barat untuk mendengar keluhan para pengrajin soal dampak penguatan dolar Amerika Serikat (AS)

Enggar yang sore ini tampak mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru dongker dan celana kain berwarna senada.

Mendag hadir di Koperasi pada pukul 14.43 WIB dengan rombongan dua mobil yang mengangkut beberapa ajudan dan juga Direktur Jendral Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan. Mendag keluar sendirian dari mobil sedan hitam berpelat RI 33.

"Kalau presiden pernah kesini apalagi saya sebagai pembantunya. Pak Jokowi itu setiap hari harus tersedia tahu tempe sebagai menu makannya. Dia selalu memberikan perhatian, dan ia selalu mengingatkan perkembangan ekonomi bukan hanya diatas saja justru ekonomi kita berkembang dari yang di bawah. Ia bilang berikan perhatian yang lebih pada mereka (pengusaha kecil)," kata dia dalam sambutan awal sebelum mendengarkan keluhan para pengusaha tahu dan tempe di kantor Primkopti, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (19/9/2019).


Setelah menyambut para pengusaha tahu dan tempe Enggar langsung ditempatkan di depan forum diskusi dan mendengar langsung soal keluhan para pengusaha tahu dan tempe yang saat ini tengah risau ditengah gejolak penguatan dolar terhadap rupiah.

Sebagai informasi, pagi ini dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp 14.890. Pagi kemarin, dolar mengamuk ke Rp 14.910.

Mengutip data perdagangan tersebut, Rabu (19/9/2018), dolar AS menyentuh posisi tertinggi di Rp 14.907 dan terendah di Rp 14.847.


Dari pelemahan harga rupiah ini ditakutkan akan berimbas pada berbagai sektor perekonomian di dalam negeri termasuk harga pangan. Mengenai hal ini Enggar mengaku akan segera berkomunikasi dengan pihak importir kedelai.

Sebagai informasi, kedelai untuk produksi tempe di Indonesia secara keseluruhan menggunakan bahan baku impor. Pada Maret 2017 jumlah impor komoditas ini sebanyak 207,8 ribu ton dengan nilai US$ 92,6 juta. Kemudian di April 2017 mengalami peningkatan dengan volume menjadi 242,2 ribu ton dengan nilai US$ 108,0 juta.

Jika dirinci berdasarkan negara asal, Indonesia mengimpor kedelai paling besar dari Amerika Serikat dengan 238,8 ribu ton setara US$ 106,4 juta. Kedua, berasal dari Kanada dengan volume 2.076 ton yang nilainya US$ 970,6 ribu.

Ketiga, dari Malaysia sebanyak 738,7 ton dengan nilai US$ 387,9 ribu. Keempat, berasal dari Benin sebesar 531,0 ton dengan nilai US$ 199,6 ribu.

Jika dilihat dari Januari-April 2017, total impor kedelai mencapai 1,04 juta ton dengan nilai US$ 467,01 juta. Sedangkan Januari-April 2016 mencapai 767,3 ribu ton dengan nilai US$ 305,3 juta. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com