Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 08 Feb 2019 21:30 WIB

Harga Gas Mahal, Pupuk untuk Petani Disubsidi Rp 2.700/Kg

Syahdan Alamsyah - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Cianjur - Menteri BUMN Rini Soemarno kunjungan kerja ke Gudang Lini III PT Pupuk Indonesia (Persero) di Pasir Hayam, Cianjur, Jawa Barat. Rini meninjau langsung ketersediaan pupuk bersubsidi di tempat tersebut.

Terlihat mendampingi Rini, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Aas Asikin Idat dan Direktur Pemasaran Pupuk Indonesia, Achmad Tossin Sutawikara.

"Pupuk Indonesia saat ini sudah menyiapkan pupuk bersubsidi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 3 bulan ke depan. Kami mendorong agar Perseroan bisa terus meningkatkan efisiensi dan pelayanannya kepada para petani," terang Rini kepada awak media, Jumat (8/2/2019).


Rini menjelaskan saat ini pemerintah mensubsidi harga pupuk Rp 2.700/kilogram (kg) untuk menekan harga jual ke petani menjadi sebesar Rp 1.800/kg.

"Pupuk itu bahan baku dasarnya gas, gas ini cukup mahal sehingga biaya produksi pupuk itu kira-kira Rp 4.500. Pupuk subsidi dijual ke petani Rp 1.800 jadi Rp 2.700 disubsidi oleh negara. Di satu sisi petani mengatakan mereka butuh lebih banyak lagi pupuk bersubsidi, nah kita saat ini bagaimana kita mendorong Pupuk Indonesia bisa mengurangi biaya produksi," terang Rini.

Dengan mengurangi biaya produksi, Rini memastikan jumlah pupuk yang didistribusikan ke petani akan lebih banyak dan memenuhi kebutuhan petani.

"Bagaimana bisa PT Pupuk Indonesia grup lebih mengefisienkan diri dari sisi harga produksi. Umpanya saja dari Rp 4.500 ini bisa lebih turun, misalkan jadi Rp 4.000 kan artinya jumlah pupuk yang disubsidi jadi lebih banyak tanpa negara harus menambah uang," lanjut Rini.


Rini juga menjelaskan sesuai Peraturan Menteri Kementerian Pertanian Nomor 47/Permentan/PP.130/12/2018, BUMN Produsen pupuk, Pupuk Indonesia mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi dengan total sebanyak 8,8 juta ton.

"Tercatat hingga 31 Januari 2019 pupuk bersubsidi di tingkat Nasional telah diserap sebanyak 867 ribu ton atau 10% dari alokasi tahun 2019," terang dia.

Sementara itu pihak PT Pupuk Indonesia memastikan pihaknya terus menjalankan berbagai strategi untuk menjaga ketersediaan pupuk bersubsidi agar penyalurannya selalu optimal, salah satu strateginya adalah dengan mewajibkan Anak Usaha Produsen pupuk yang tergabung dalam Pupuk Indonesia Grup untuk menyediakan stok pupuk bersubsidi dan non subsidi hingga lini IV atau Kios Pupuk.


Upaya lain dilakukan melalui optimalisasi alokasi pupuk bersubsidi yang tersedia di masing-masing Kabupaten/Kota serta mendorong distributor dan kios untuk mengoptimalkan penyaluran pupuk bersubsidi.

"Untuk memastikan penyaluran pupuk berjalan dengan optimal terutama sepanjang momentum musim tanam hingga Maret, kami telah mengantisipasi dengan meningkatkan sistem monitoring distribusi, menambah jumlah tenaga pemasaran di daerah dan juga memperkuat armada transportasi darat dan laut," kata Aas Asikin Idat. (sya/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com