googletag.defineSlot('/4905536/detik_desktop/finance/pop_ups', [785, 440], 'div-gpt-ad-1574092191519-0').addService(googletag.pubads());
ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 26 Feb 2019 15:57 WIB

RI Darurat Tenaga Kerja Digital

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Berkembangnya teknologi membuka peluang baru di dunia bisnis. salah satu yang muncul adalah bisnis toko online alias e-commerce. Sayang, itu belum diimbangi dengan ketersediaan tenaga kerja di sektor industri digital ini.

"Dari sisi jumlah yang paling langka software engineer karena kebutuhannya tinggi," kata Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung di Roemah Kuliner, Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Untuk unicorn saja, lanjut dia, kebutuhan software engineer bisa mencapai 1.000 orang. Jumlah tersebut belum bisa diimbangi dengan kemampuan perguruan tinggi menghasilkan lulusan di bidang tersebut.

"Kalau dibandingkan lulusan satu angkatan 1 universitas saja, kayanya nggak sampai 1.000," tuturnya.


Selain software engineer, kata Untung, Indonesia juga kekurangan tenaga ahli di bidang Product Management.

"Yang juga amat sangat langka dan mahal, tapi agak terpendam karena jumlahnya tidak tinggi yaitu produk management. Itu susah karena sekolahnya tidak ada. itu ilmu setengah teknik setengah bisnis," beber Untung.


Tenaga kerja sektor digital yang masih sulit ditemukan di Indonesia adalah tenaga analis data. Padahal, peran analis data dalam bisnis e-commerce sangat penting dalam menentukan strategi dan kelangsungan bisnis itu sendiri di masa depan.

"Ketiga sebenarnya data. Data ini banyak sekolah statistik, tapi masih ada gap. Kalau omongin data sebagai data provider (penyedia data) nggak susah. Tapi data analytic (analis data) yang susah," beber dia. (dna/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com