Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 29 Jul 2019 15:20 WIB

Rini Ogah Komentar soal Krakatau Steel Terancam Rugi Rp 1,3 T

Hendra Kusuma - detikFinance
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno/Foto: Dok. Kementerian BUMN Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno/Foto: Dok. Kementerian BUMN
Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno ogah memberikan komentar mengenai masalah keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang terancam rugi sebesar Rp 1,3 triliun.

Rini mengatakan, proses bisnis yang dijalankan Krakatau Steel merupakan proses biasa yang dilakukan secara business to business (b to b).

"No comment. Dibilang no comment. Tanya sama KS dong. Itu kan proses b to b. Ya jalan seperti apa adanya," kata Rini di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (29/7/2019).


Krakatau Steel terancam merugi karena pengoperasian proyek pengolahan bijih besi menjadi hot metal atau blast furnace. Pasalnya, harga pokok produksi (HPP) slag yang dihasilkan proyek blast furnace ini lebih mahal US$ 82 per ton atau setara dengan Rp 1.144.130 (kurs Rp 14.000) jika dibandingkan harga pasar.

Sehingga, jika produksinya 1,1 juta ton hot metal per tahun, maka potensi kerugian Krakatau Steel (KS) sekitar Rp 1,3 trilun per tahun.


Hal tersebut diungkapkan oleh Komisaris Independen Krakatau Steel Roy Edison Maningkas yang sudah menyampaikan pengunduran dirinya ke Kementerian BUMN. Pengunduran dirinya akan diproses dalam kurun waktu sebulan dari pengajuan.

"Harga pokok produksi yang nanti dihasilkan itu lebih mahal US$ 82 per ton, which is kalau produksi 1,1 juta ton itu kita akan mengalami kerugian per tahun Rp 1,3 triliun," jelas Roy di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Selasa (22/7/2019).

Simak Video "Soal Super Holding BUMN, Rini: Nanti Bicara Dulu dengan Presiden"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed