Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 25 Feb 2020 22:45 WIB

AS Anggap RI Negara Maju, Hubungan Bisnis Kapas Terganggu?

Bayu Ardi Isnanto - detikFinance
biji kapas Foto: Istimewa
Solo -

United States Trade Representative (USTR) memperketat kriteria negara berkembang yang berhak mendapatkan pengecualian de minimis dan negligible import volumes untuk pengenaan tarif antisubsidi atau countervailing duty (CVD), pada 10 Februari 2020. Berdasarkan keputusan tersebut, Indonesia tidak lagi dimasukkan dalam daftar negara berkembang.

Perubahan status itu dikhawatirkan akan membuat Indonesia kehilangan fasilitas Generalize System of Preference (GSP) atau keringanan bea masuk impor barang ke AS. Padahal, Indonesia dan AS banyak melakukan hubungan ekspor-impor serat kapas dengan produk tekstil.

Cotton Council International (CCI) sebagai asosiasi perdagangan nirlaba yang mempromosikan serat kapas AS dan produk kapas manufaktur internasional dengan merek Cotton USA, mengatakan pebisnis tekstil Indonesia tak perlu khawatir akan hal itu.

"Ini juga tergantung negosiasi Jakarta dan Washington. Dia orang bisnis, kita orang bisnis. Aku bantu anda, anda bantu aku," kata Dr Anh Dung (Andy) Do selaku Program Representative Indonesia CCI usai acara seminar teknik pertekstilan di Solo, Selasa (25/2/2020).


Andy meyakini tak akan ada masalah antara bisnis kapas dan tekstil AS dengan Indonesia. Sebab kedua negara memiliki hubungan yang saling menguntungkan.

"Antara Indonesia dan Amerika tidak ada problem. Amerika mau terima banyak barang dari Indonesia. Dan Indonesia mau beli banyak US Cotton," ujarnya.

Untuk diketahui, serat kapas AS banyak diolah di perusahaan tekstil Indonesia. Dalam setahun ada senilai USD 500 juta serat kapas Cotton USA yang diimpor perusahaan Indonesia.

Perusahaan tekstil itu kemudian menghasilkan produk fashion bermerek internasional. Produk tersebut pun diekspor ke berbagai negara, termasuk ke Eropa dan AS.


"Apalagi Presiden Joko Widodo menjadikan tekstil ini sebagai prioritas ekspor. Keuntungan di dalam negeri juga membuka lapangan kerja yang luas," ujar dia.

Selain itu, CCI juga terus bekerja sama dengan Indonesia melalui Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) untuk memajukan industri tekstil dalam negeri. Salah satunya dengan menggelar seminar The Economics of The Mills oleh Rieter dan Recent Discoveries about the Quality of US Cotton oleh CCI yang digelar di Solo, Jawa Tengah.



Simak Video "Ratusan Rumah di Amerika Serikat Terendam"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com