Produksi Masker dan APD Ampuh Selamatkan Industri Tekstil?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 25 Apr 2020 16:00 WIB
Produk tekstil impor dari China makin deras masuk ke Indonesia. Para pengusaha industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Jabar pun mengeluh karena terancam bangkrut.
Foto: Rico Bagus
Jakarta -

Sepinya permintaan akan tekstil produk tekstil (TPT) menyebabkan beberapa pabrik yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) beralih memproduksi masker dan alat pelindung diri (APD) di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Lantas, apakah peralihan produksi ini mampu menyelamatkan industri TPT dari ganasnya gempuran Corona?

Menjawab pertanyaan tersebut, Sekretaris Ekskutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman dari 2.500 perusahaan di garmen menengah besar di Indonesia, hanya 3% di antaranya yang mampu melakukan peralihan produksi tersebut.

"Dari 2.500 industri garmen menengah besar Indonesia, hitungan kita puluhan, mungkin tidak lebih dari 30 perusahaan besar yang bisa produksi APD," ungkap Rizal kepada detikcom, Sabtu (25/4/2020).

Rizal mengatakan, tak semua perusahaan bisa melakukan diversifikasi tersebut. Sehingga, peralihan ini tak cukup untuk menyelamatkan industri tekstil dari gempuran Corona.

"Secara nasional tidak lebih dari 3% yang bisa memproduksi masker dan APD. Apalagi untuk APD itu tidak semua garmen bisa, Jadi secara nasional tidak signifikan mendongkrak industri tekstil, hanya beberapa saja yang bisa memproduksi itu. Nah itu yang bisa sekarang beralih," jelas Rizal.

Apalagi saat ini kegiatan ekspor batal yang menyebabkan para pelaku industri TPT menanggung kerugian yang besar.

"Dunia juga kena kan, artinya pasar ekspor kita juga banyak yang cancel. Contohnya Amerika itu kan lockdown, toko mereka tutup, sedangkan ekspor garmen kita ke sana besar. Jadi banyak garmen kita yang di cancel order ke Amerika. Otomatis kan rugi, batal," urainya.

Namun, selain Corona, menurut Rizal industri TPT sudah terpuruk sejak tahun 2019 saat banjir impor TPT dari China.

"Jadi industri ini sudah sakit di tahun 2019 ketika impor China banyak. Dan ditambah lagi ketika Indonesia kena Corona itu menurunkan sekali demand di pasar domestik kita," imbuh dia.

Oleh sebab itu, API meminta pemerintah menurunkan bantuan berupa stimulus kepada industri TPT dalam negeri. Bantuan tersebut bisa berupa keringanan tagihan listrik, serta relaksasi kredit perbankan. Sayangnya, hingga saat ini pemerintah belum juga mengabulkan permintaan API.

"Kita sudah surati PLN, surat Menteri, Menko, BUMN, bahkan ke Presiden juga sudah. Kita sudah minta ke OJK dan BI memberi stimulus ke perbankan, sehingga perbankan bisa memberikan relaksasi ke industri untuk pembayaran bunga. Stimulus yang dibutuhkan industri tekstil sudah kita sampaikan ke pemerintah, tapi sampai sekarang belum ada respons," pungkas dia.




Simak Video "Ini Koleksi Senjata-Tampang Penembak Mobil Bos Tekstil di Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)