ADVERTISEMENT

2.000 Ton Baja Ringan Made in Cikarang Diekspor hingga ke Puerto Rico

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 16 Agu 2020 13:32 WIB
Meningkatnya kebutuhan baja lapis alumunium seng (BJLAS) membuat PT Tata Metal Lestari diminta untuk memenuhi kebutuhan itu.
Foto: dok. Kemenperin
Jakarta -

Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melepas ekspor baja ringan sebanyak 2.000 ton dari Cikarang ke 3 negara tujuan. Ekspor baja ringan diekspor ke Thailand, Australia hingga Puerto Rico.

Kelapa Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Doddy Rahardi mengatakan, ekspor baja ringan tersebut dilakukan oleh PT Tata Metal Lestari (Tatalogam Group). BPPI mengapresiasi sektor industri masih bisa melakukan ekspor meski di tengah pandemi Corona.

"Jadi ini bukti nyata. Di saat pandemic kita masih bisa bersaing. Kita bisa ekspor. Sesuai tema peringatan 75 tahun kemerdekaan Indonesia yang bertema 'Indonesia Maju'. Artinya kita harus bisa mewujudkan mimpi jadi kenyataan. Terus berkarya tanpa batas. Inilah buktinya. Di saat seperti ini kita, dari Tatalogam Group ini bisa ekspor (baja ringan) ke negara-negara seperti Australia, Thailand dan Puerto Rico," terang Doddy akhir pekan lalu saat melepas ekspor di kawasan Industri Delta Silicon, Cikarang dalam keterangannya, Minggu (16/8/2020).

Doddy juga mengatakan, Tata Metal merupakan sektor industri logam pertama yang menjalani assessment INDI 4.0. Pendampingan mulai dilakukan BPPI sejak tanggal 17-20 Juli 2020 lalu secara daring. Tak hanya melakukan pendampingan, BPPI juga sudah meninjau kesiapan perusahaan dalam mengantisipasi penyebaran virus Covid-19.

"Pendampingan INDI 4.0 ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, kinerja mesin peralatan dan juga mengikuti protokol kesehatannya. Langkah-langkah yang sudah dilakukan PT Tata Metal Lestari ini sudah baik sekali. Kita masih melakukan pendampingan ini dengan target tahun 2021 sudah bertransformasi menjadi industry 4.0, bertransformasi digital. Jadi bisa bersaing, bisa masuk pasar global dan menghasilkan devisa Negara. Ini pejuang-pejuang industri ada di sini salah satunya," ujarnya.

Sementara itu, Vice President PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi mengatakan, pasar ekspor bisa menjadi tolak ukur bagi produk yang dihasilkan manufaktur yang telah bertransformasi ke era 4.0 karena standar yang ditentukan di berbagai negara sangat tinggi dan berbeda-beda pula.

"Buah dari penerapan project Indi 4.0 ini adalah efisiensi yang berujung pada kualitas. Sehingga produk PT Tata Metal dipercaya oleh pasar global. Terbukti dengan telah menembus pasar ekspor di 8 negara. Ekspor perdana dimulai April waktu susah-susahnya pandemi. Kenapa kami ekspor, karena untuk diversifikasi pasar. Juga agar mesin-mesin investasi baru kami ini tetap running sehingga tidak ada satupun karyawan Tatalogam Group yang di PHK. Untuk kali ini kita ekspor 2.000 ton dengan tujuan 3 negara yaitu Australia, Thailand, dan Puerto Rico. Komoditasnya baja lapis aluminium seng atau galvanum," terangnya lagi.

Selain itu Stephanus juga berharap, langkah ekspor yang dilakukan PT Tata Metal Lestari juga dapat berkontribusi terhadap penerimaan Negara di tengah pandemi Covid-19 yang secara perlahan mengganggu roda perekonomian di semua lini.

"Ekspansi PT Tata Metal Lestari ke luar negeri serta penggunaan produk dalam negeri ini diharapkan dapat menguatkan posisi neraca dagang Indonesia, dan diharapkan akan memberikan kontribusi atau pengaruh yang positif terhadap devisa negara, utamanya di tengah menurunnya kondisi ekonomi dalam negeri akibat pandemi Covid-19 " jelasnya.



Simak Video "Ekspor Mobil 'Made in Indonesia' Meningkat, SUV Suzuki Kian Diminati"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT