Ada Proyek Olefin Rp 50 T di RI, Apa Manfaatnya?

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Sabtu, 26 Sep 2020 06:55 WIB
Pengembangan Kilang Minyak Balikpapan terus dilakukan. Dengan adanya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), kapasitas produksi anak anak 38%.
Ilustrasi/Foto: Suhandi Ridho

Sebelumnya beredar tudingan negatif yang mengarah kepada panitia tender yang diduga melakukan pelanggaran dalam proses prakualifikasi, dengan mengakomodasi salah satu bidders untuk digiring menjadi pemenang pada proses tender DBC Olefin TPPI Tuban, namun setelah dilakukan klarifikasi, kabar tersebut tidak terbukti.

Diduga tudingan negatif tersebut dilayangkan oleh sejumlah oknum yang tidak menghendaki pabrik ini terbangun. Salah satu poin syarat yang ditetapkan panitia tender adalah leader (pimpinan) konsorsium wajib memiliki pengalaman membangun EPC sebagai pimpinan konsorsium dalam 20 tahun terakhir.

Telah diverifikasi dan terkonfirmasi bahwa JO Hyundai Engineering Co., Ltd., dan Konsorsium Technip dinyatakan telah memiliki pengalaman dalam membangun konstruksi olefin plant sampai selesai dalam 20 tahun terakhir.

Dugaan lain adalah terkait kecurangan panitia tender yang mengizinkan bidder untuk menambah anggota konsorsium setelah pengumuman prakualifikasi. Namun faktanya, sesuai aturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh panitia tender dinyatakan bahwa selama proses tender perubahan anggota konsorsium/KSO diperkenankan dengan mendapatkan persetujuan tertulis dari pemilik proyek.

Ketentuan ini telah mematahkan tudingan negative yang sebelumnya beredar. Diketahui bahwa dalam proses tender, Konsorsium Daelim telah menambahkan McDermott Indonesia sebagai anggota barunya, JO Hyundai Engineering Co., Ltd. telah menambahkan Saipem SpA sebagai anggota barunya, demikian juga dengan Konsorsium Technip yang menambahkan Samsung Engineering sebagai anggotanya.

Tudingan negatif juga dilayangkan kepada salah satu pemenang tender, JO Hyundai Engineering, dengan mengangkat berita terkait kasus suap yang melibatkan Hyundai Engineering & Construction Co., Ltd. (HDEC) yang terjerat kasus dugaan suap proses perizinan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 Cirebon. Namun fakta sebenarnya mengatakan bahwa Hyundai Engineering & Construction (HDEC) dan Hyundai Engineering Co., Ltd (HEC) merupakan dua entitas usaha yang berbeda.

Hal ini pun telah disampaikan oleh management Hyundai Engineering Co., Ltd (HEC) kepada manajemen Pertamina dan panitia tender dan telah dikuatkan oleh surat pernyataan dari Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia yang menyatakan bahwa kedua entitas usaha tersebut adalah berbeda.

Untuk diketahui, TPPI merupakan anak usaha dari PT Tuban Petrochemical Industries (TPI) yang 95,9% sahamnya dimiliki pemerintah. Pemerintah sendiri menargetkan dapat menghemat devisa hingga US$ 1,2 miliar per tahun sejalan dengan meningkatnya kepemilikan pemerintah di saham PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) menjadi 80%.

Pembangunan proyek tersebut ditargetkan berlangsung selama tiga tahun, yakni akan dimulai pada Desember 2021 dan akan mulai berproduksi pada April 2024.

Halaman

(ara/ara)