Realisasi Industri 4.0, Kemenperin Dorong Transformasi Balai Binaan

Reyhan Diandri - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 17:54 WIB
Karyawan mengoperasikan alat industri yang dipamerkan dalam Manufacturing Indonesia 2019 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019. Pameran tentang teknologi peralatan industri baik dari dalam dan luar negeri tersebut berlangsung 4-7 Desember 2019. CNNIndonesia/Adhi Wicaksono.

Pameran Manufacturing Indonesia yang ke 30 ini diikuti oleh 1.500 peserta dari 39 negara seperti Jepang, Amerika Serikat, Belanda, Brazil, Cina, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Singapura, Swiss dan lainnya.

Deretan produk dan terobosan teknologi khususnya yang mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi seperti Internet of Things (IoT), Cloud Computing, Artificial Intelligence, Mobility Virtual, Augmented Reality dan Big data juga dihadirkan.


Riset McKinsey mengungkapkan bahwa industri 4.0 memberikan dampak yang signifikan terhadap sektor manufaktur di Indonesia. Penerapan digitalisasi pada industri akan mendorong pertambahan hingga US$150 miliar atau sekitar Rp2.100 triliun lebih atas hasil ekonomi di 2025. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya untuk membuat terobosan baru dengan memanfaatkan konektivitas teknologi di sektor industri. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan mendorong balai-balai binaannya yang tersebar di seluruh Indonesia, agar bisa bertransformasi menjadi unit kerja yang lebih inovatif.

Kepala BPPI Kemenperin Doddy Rahadi mengatakan hal tersebut sejalan dengan implementasi industri 4.0 untuk menyiasati adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi COVID-19. Menurutnya balai industri yang dimiliki oleh Kemenperin saat ini dianggap sebagai lembaga terdepan dalam menerapkan inisiatif peta jalan Making Indonesia 4.0.

"Upaya ini akan terus kami kembangkan untuk menyosialisasikan, menciptakan dan testing solusi industri melalui jasa konsultasi, jasa sertifikasi, jasa pelatihan dan jasa pemanfaatan teknologi yang berkelanjutan," ujar Doddy, dalam keterangan tertulis, Selasa(29/9/2020).

Perlu diketahui, hal tersebut merupakan salah satu pembahasan dalam acara Focus Group Discussion (FGD) tentang Ekosistem Inovasi Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin di Balai Besar Tekstil Bandung pada Kamis (24/9). Acara FGD itu dihadiri langsung oleh Doddy beserta jajaran dan juga para pimpinan satuan kerja dari balai industri di lingkungan Kemenperin.

Menurut Doddy, dalam rangka mewujudkan ekosistem inovasi industri 4.0 pihaknya telah menyusun panduan tentang Learning Factory Industri 4.0 dan assessment Technoware, Infoware, Humanware, serta Organware (THIO). Hal-hal tersebut digunakan sebagai tools oleh Balai Besar serta Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri, dalam meningkatkan pelayanan kepada dunia usaha dengan memanfaatkan penerapan teknologi industri 4.0.

Doddy menjelaskan Learning Factory Industri 4.0 merupakan sebuah platform yang memuat metode penerapan industri 4.0 bagi perusahaan manufaktur di Tanah Air. Dengan juga melibatkan pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang senantiasa mendukung kemajuan sektor perindustrian di Indonesia.

"Tingkat keberhasilan Learning Factory Industri 4.0 tidak hanya diukur dari sisi ekonomi, akan tetapi harus diukur juga dari keuntungan intangible, seperti jumlah industri yang menerapkan industri 4.0, jumlah SDM yang up skilling, jumlah teknologi tepat guna, dan jumlah paten yang dihasilkan," jelasnya.

Doddy mengatakan untuk mendukung balai dalam membuat Learning Factory Industri 4.0 tersebut, Kemenperin juga telah melakukan assessment THIO untuk melihat sejauh mana kondisi kesiapan teknologi, SDM, serta sistem informasi dan organisasi yang dimiliki.

"Identifikasi kendala dan pain point yang dihadapi merupakan hal yang sangat penting karena akan menjadi landasan rekomendasi untuk membuat demonstrasi dalam pemanfaatan teknologi industri 4.0, salah satunya adalah ketersediaan jaringan koneksi dan fasilitas digital yang mendukung," jelas Doddy.

Menurut Doddy, hal tersebut berartipemanfaatan teknologi industri 4.0 menjadi bagian yang vital dalam proses transformasi digital. Ia pun juga mengingatkan tanpa disadari saat ini industri sudah menunggu solusi dari pemerintah terkait contoh sukses pemanfaatan teknologi industri 4.0.

"Sebab, teknologi industri 4.0 memberikan kemudahan akses digital secara real time serta meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan manufaktur," pungkasnya.


Sebagai informasi, seusai memberikan arahan pada kegiatan FGD, Doddy mengunjungi proyek learning factory showcase yang ada di Balai Besar Tekstil, tepatnya di Gedung Product Development and Design Center (PDDC). Pada tahun 2020, Balai Besar Tekstil merupakan satu dari enam satker di bawah BPPI yang mulai mengimplementasikan program Learning Factory yang digagas Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika.

Kemenperin aktif menjalin koordinasi dan membangun jejaring kerja sama antar stakeholders untuk mempercepat transformasi industri 4.0. Dalam hal ini, Kemenperin telah menginisiasi ekosistem industri 4.0 yang disebut Ekosistem Indonesia 4.0 (SINDI 4.0) sebagai wadah saling bersinergi dan berkolaborasi, baik pemerintah, perusahaan kawasan, pelaku industri, akademisi dan lembaga litbang, technical provider, konsultan serta tentunya pelaku keuangan.



Simak Video "Menkeu Sri Mulyani Tolak Beri Pajak Mobil Baru 0 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)