Vaksinasi Corona Sudah Dekat, Stok Jarum Suntiknya Ada Nggak?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 12 Okt 2020 11:55 WIB
Jerman Akan Izinkan Penggunaan Beberapa Jenis Vaksin Anti Corona
Ilustrasi/Foto: DW (News)
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) beberapa bulan lalu menyebut kekurangan jarum suntik untuk program imunisasi seluruh warga. Saat itu Presiden Donald Trump menyebut jika kebutuhan jarum suntik di AS masih harus ditambah hingga 850 juta.

Mengutip The Guardian, disebutkan jarum suntik ini sangat dibutuhkan saat proses vaksin dilakukan pada 2021 mendatang. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan pemerintah sudah belajar dari Amerika terkait ketersediaan jarum suntik ini.

Dia menyebut untuk imunisasi ini dibutuhkan dua kali suntikan.

"Karena vaksin ini suntiknya harus 2 kali, mesti ada booster nya lalu 2 minggu disuntik lagi," kata dia dalam acara Blak-blakan detikcom, Senin (12/10/2020).

Dia mengungkapkan dari total jumlah penduduk ada sekitar 160 juta orang yang harus divaksin tahap awal. Ini artinya jarum suntik yang dibutuhkan adalah sekitar 320 juta.

"Bagaimana pengadaan jarum suntiknya? Alhamdulillah kita sudah cukup antisipasi, sekarang stok yang ada 150 juta dan kita punya kapasitas produksi grupnya Indofarma setahun 350 juta buah, di Mitra Rajawali Banjaran setahun 120 juta untuk produksi yang 1/2 ml," jelas dia.

Budi menyebut hingga 2021 stok jarum suntik akan aman karena itu dia menyebut pihaknya sudah melakukan produksi dan stok dari sekarang.

Dia menyebutkan tidak ingin mengulang kesalahan saat awal pandemi. Misalnya dulu Indonesia kekurangan masker hingga alat pelindung diri (APD).

"Waktu itu kita pikir bisa beli dari luar, tapi kan ternyata semua orang butuh ya. Nah jarum suntik juga seperti itu jadi cukup untuk sekian puluh juta orang pertama yang disuntik," jelasnya.

Dari banyaknya produksi ini, Budi tidak menampik jika ada peluang untuk ekspor dan membantu negara-negara lain yang membutuhkan. Negara yang dibidik adalah Papua Nugini sampai Laos.

(kil/eds)