Pernah Dengar Program Cangkul Merah Putih? Sekarang Tak Jelas Nasibnya

Achmad Syauqi - detikFinance
Minggu, 18 Okt 2020 20:14 WIB
Para perajin Cangkul di Karanganom, Klaten.
Foto: Para perajin Cangkul di Karanganom, Klaten. (Achmad Syauqi/ detikcom)
Klaten -

Program Cangkul Merah Putih yang dilontarkan Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah tak jelas kelanjutannya. Para perajin menunggu dan sangat berharap segera ada tindak lanjutnya.

"Waktu kemarin bulan Februari ada kedatangan pak Teten (Menteri koperasi) sebenarnya kami sangat berharap. Tapi mungkin karena ada COVID, pemerintah fokus ke sana jadi rencana produksi cangkul proyek yang dinamai cangkul merah putih terkendala," ungkap Sekertaris Kopinkra 18 Dusun Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Klaten, Supriyanto pada detikcom, Minggu (18/10/2020) siang.

Supriyanto mengatakan kedatangan menteri koperasi bulan Februari ke desanya bersama staf untuk mengecek kerajinan cangkul. Ada rencana produksi cangkul di desanya tapi dengan merek cangkul Merah Putih.

"Nantinya stikernya cangkul merah putih. Tapi sampai sekarang belum ada yang produksi, makanya ini kita tunggu kelanjutannya," jelas Supriyanto.

Perajin di desanya, terang Supriyanto sekitar 70 perajin dan setiap perajin punya 4-6 tenaga kerja. Perajin sendiri sudah siap memproduksi jika ada perintah.

"Perajin sudah siap produksi. Bahkan sudah menyiapkan mal bentuknya, maka kita tunggu," sambung Supriyanto.

Setelah kedatangan Menteri koperasi dan staf, ucap Supriyanto, perwakilan perajin termasuk dirinya sudah diundang ke Bogor. Pertemuan dengan staf menteri itu membicarakan rencana cangkul yang akan diproduksi.

" Kita diundang ke Bogor membicarakan cangkul yang akan diterbitkan. Namun sampai hari belum ada kelanjutannya," imbuh Supriyanto.

Perajin, kata Supriyanto sangat memaklumi jika tahun ini ada kendala. Sebab hampir semua anggaran pemerintah difokuskan untuk penanganan COVID-19.

" Kita memaklumi jika itu untuk COVID. Tapi kita sangat berharap cangkul merah putih itu terealisasi dan kita sudah siap jika diminta produksi massal," ujar Supriyanto.

Staf dari kementerian, papar Supriyanto juga pernah datang lagi ke dusun. Mengecek kemampuan jalan desa jika akan digunakan untuk pengambilan cangkulnya.

" Jalan dicek apakah bisa menampung armada besar untuk mengambil cangkul. Dari harga kita juga bisa bersaing sebab Rp 70.000 cangkul tinggal pakai," tutur Supriyanto.

Diluar produksi cangkul, menurut Supriyanto, perajin mulai memproduksi cangkul dodos sawit dan kapak sawit. Dua alat itu khusus untuk luar Jawa.

"Produksi dua jenis itu atas pendampingan dari Astra internasional. Tapi hanya untuk kelapa sawit di luar Jawa," tambah Supriyanto.

Dampak COVID, diakui Supriyanto, sangat terasa sebab sampai membuat nol pemasaran. Untuk saat ini yang dibutuhkan bantuan pemasaran dan modal.

"Untuk saat ini kami berharap ada bantuan pemasaran dan modal. Sejak ada COVID penjualan macet dan barang hanya ditumpuk," pungkas Supriyanto.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Pemkab Klaten Bambang Sigit Sinugroho mengatakan setelah ada kunjungan menteri koperasi ke Klaten, perajin sudah diundang sosialisasi. Tapi sampai saat ini belum ada kejelasan lanjutan.

"Belum ada kejelasan meskipun staf kementerian sudah datang. Perajin juga sudah diundang dan terakhir kabarnya bahan akan dipasok perusahaan nasional," kata Bambang Sigit pada detikcom di ponselnya.

Kendala lain, jelas Bambang Sigit, pandemi COVID 19 ini memukul segala sektor. Termasuk pembangunan yang macet dan petani yang lesu daya belinya.

" Kalaupun cangkul diproduksi untuk apa ? Wong proyek pembangunan berhenti. Masyarakat juga tidak membeli cangkul karena untuk kebutuhan sehari-hari saja juga berhemat," kata Bambang Sigit.

(dna/dna)